Rabu, 1 Februari 2023

Parade Jaranan Virtual 2020 Pindahkan Panggung ke Daring

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
flyer

Masa pandemi Covid-19 mengharuskan aktivitas kesenian berpindah dari panggung konvensional menuju pentas daring. Parade Jaranan Virtual 2020 buktikan perpindahan panggung kesenian itu.

Sejumlah kelompok kesenian khususnya Jaranan dari beberapa kota di Jawa Timur, dijadwalkan mengisi Parade Jaranan Virtual 2020 yang sudah dimulai sejak Senin (3/8/2020) dengan siaran langsung dari channel Youtube Cak Durasim.

Kelompok Jaranan yang tampil secara daring kali ini adalah: Jaranan Bodhag dari Probolinggo, Jaranan Turangga Yaksa dari Trenggalek, Jaranan Trill dari Blitar, Jaranan Sentherewe dari Kabupaten Tulungagung, Jaranan Buto dari Banyuwangi, Reog Ponorogo ditambah beberapa kelompok Jaranan lainnya.

Biasanya pentas kesenian tradisional seperti Jaranan, secara berkala ditampilkan di panggung Taman Budaya Jawa Timur dalam berbagai kemasan kegiatan seni. Mulai dari pementasan bulanan sampai dengan pementasan bersama yang menghadirkan kelompok-kelompok kesneian tradisional ini dari berbagai kota di Jawa Timur.

Di masa pandemi Covid-19 sekaligus penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) aktivitas pementasan kesenian dengan menghadirkan masa penonton berjumlah besar harus ditiadakan mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

“Kondisi ini memang sebuah pengalaman baru. Bahwa akhirnya seniman yang biasanya punya tempat untuk unjuk karya mulai kehilangan tempatnya, oleh karena pandemi memang tidak terhindarkan. Semua mencari cara. Daring atau virtual sepertinya layak jadi pengganti panggung itu,” terang Meimura seniman, sutradara, dan aktor, Selasa (4/8/2020).

Parade Jaranan Virtual 2020 yang dijadwalkan tampil secara live, dengan saluran daring maka seniman ditambahkan Meimura harus menghitung dan mempersiapkan diri agar penampilannya bisa dinikmati dan ditonton seperti layaknya menonton sebuah pementasan secara langsung.

“Seniman dipaksa harus mulai melihat panggung daring sebagai pilihan alternatif bagi sarana penampilan karya-karyanya. Tidak ada lagi panggung-panggung konvensional di masa pandemi ini. Panggung daring membutuhkan kecermatan seniman agar karyanya dapat ditonton layaknya pentas konvensional,” tambah Meimura.

Parade Jaranan Virtual 2020 yang juga menampilkan Reog Ponorogo menjadi menarik, lantaran seniman Reog dengan segala keterampilannya memainkan Reog harus patuh dengan kamera yang akan menghantarkan performanya di hadapan pemirsanya dengan menggunakan sarana daring.

Meimura mengingatkan bahwa seniman khususnya seniman tradisional tetap harus bertanggungjawab untuk menghasilkan karya-karya sebagai bentuk komitmen, dan di pandemi ini sarana daring atau virtual menjadi pilihan masuk akal bagi para seniman untuk berpentas.

“Kegiatan seperti parade virtual tetap mengharuskan seniman tradisional itu beradaptasi. Mengenali hal baru, mempelajari dna mencoba menggunakannya sebagai sarana berproduksi, berkarya. Ini penting dipahami dan seniman tradisional wajib menjalani,” pungkas Meimura.(tok/ipg)

Berita Terkait