Senin, 30 November 2020

Seniman Mojokerto Suarakan Kondisi Bumi yang Rusak Lewat ANU

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Kukun Tri Yoga, pemeran Tanah, tampil bertelanjang dada, ujung kaki hingga ujung rambutnya tertutup tanah berwarna cokelat dalam pertunjukan teater berjudul "ANU" di kebun milik warga, di Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto, Kamis (29/10/2020) malam. Foto: Fuad Maja FM untuk suarasurabaya.net

Suara seruling memecahkan kesunyian. Kemudian terdengar suara tangisan seorang perempuan. Suaranya menyayat hati, mengiringi gerak tubuh para penari.

Kamis (29/10/2020) malam, lebih dari 25 orang seniman dari berbagai kelompok memainkan pertunjukan teater berjudul “ANU” di kebun milik warga, di Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto.

Istilah “ANU” merupakan istilah dengan berbagai arti. Namun dalam pementasan kali ini para seniman mengibaratkannya sebagai bumi yang semakin rusak akibat ulah tangan manusia serakah. Pagelaran teater ini juga menyindir ketidakadilan yang terjadi selama pandemi.

Bagus Mahayasa, sutradara sekaligus pembuat naskah pertunjukkan ini mempersonifikasikan Ibu Pertiwi dengan sesosok perempuan.

Leny, seniman pemeran Ibu Pertiwi tampil mengendong boneka bayi. Saat bayi tersebut telah dewasa, ia menjadi perusak bumi.

Dalam pagelaran seni ini juga ditampilkan sesosok laki-laki yang menari dalam kubangan tanah. Kukun Tri Yoga, pemeran Tanah, tampil bertelanjang dada, ujung kaki hingga ujung rambutnya tertutup tanah berwarna cokelat.

“Bumi Pertiwi sedang terluka, tubuhnya remuk terbalut wabah Merebak, bahkan seantero Nusantara yang entah kapan penghujungnya. Bumiku semakin sesak nafasnya, saat penghuninya merusak pepohonan dan mengali tanah tanpa melihat di sekitarnya.” Begitulah kutipan bait puisi dengan judul “Sang Tanah Sujud Bumi” yang dibacakan Kukun.

Bagus Mahayasa mengatakan, naskah ini dia tulis beberapa bulan yang lalu. “Saya tulis beberapa bulan lalu, menghadapi pandemi ini. Di balik pandemi ini berkeinginan mengkorek-korek dari keinginan teman-teman seniman itu merasa ‘dikebiri’. Dengan adanya pandemi, mereka tidak bisa berkarya,” katanya kepada Fuad, reporter Maja FM.

Dia menceritakan, seolah hidup hari ini para seniman ini hidup di rumah sendiri, menjadi orang lain di rumah sendiri, seperti orang mati di dalam rumah.

“Kita coba untuk mengkritik. Kita ambil dari bahasa sehari-hari. Kita hanya mampu membuat sebuah kode-kode harus bergerak bagaimana iya atau tidak, sehingga kita mengistilahkan “ANU”. Anunya siapa? Anunya kapan? Anunya di mana?” ujarnya.

“Hanya lewat anu inilah kami sampaikan untuk mengibaratkan kepada siapapun. Bumi kita tanah kita dalam kondisi tak baik baik saja,” tambahnya.

Pagelaran ini merupakan pertunjukan yang digagas oleh berbagai komunitas seniman. Tak hanya para pegiat teater, melainkan dari seni rupa, dalang, hingga tari.(fad/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Surabaya
Senin, 30 November 2020
26o
Kurs