Sabtu, 29 Januari 2022

Cara Mengatasi Kecanduan Game Online pada Orang Dewasa

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Bermain game di ponsel. Foto : Ika suarasurabaya.net

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2018 lalu telah menetapkan adiksi game online sebagai salah satu bentuk gangguan mental dan disebut dengan istilah gaming disorder.

Gaming disorder ini termasuk dalam kategori kecanduan non zat atau kecanduan perilaku seperti hanya juga adiksi gawai, judi online, media sosial, dan pornografi.

Prevalensi kecanduan game online di Indonesia diduga lebih tinggi dari sejumlah negara maju di Asia. Bahkan menurut lembar fakta yang dirilis oleh Entertainment Software Association (ESA), rata-rata gamer ternyata berusia 35 tahun. Data tersebut juga menunjukkan mayoritas, atau 29 persen gamer di seluruh dunia ternyata berusia 18 hingga 35 tahun, yang merupakan usia dewasa.

Data yang dirilis oleh ESA tersebut tentu bertolak belakang dengan pandangan bahwa video game merupakan sarana permainan untuk anak kecil.

Gisma Priyayuda Assyidiq, shoutcaster dan esports enthusiast mengatakan, biasanya kecanduan game pada orang dewasa berawal dari pelarian rasa jenuh.

“Orang yang sudah dewasa gampang bosan. Berganti-ganti game dan bertemu temen baru. Usia yang 30-an itu ketemu yang 18-an, merasa muda lagi dan ada challenge main game terus,” kata pria yang sering dipanggil Melon ini kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (15/1/2022).

Faktor eksternal semakin banyaknya orang dewasa yang kecanduan game yaitu minimnya campur tangan pemerintah. Berbeda dengan Pemerintah China yang mengatur jam main game langsung dari aplikasinya. China dapat dengan mudah melakukan ini karena tidak ada Play Store di China. Mereka menciptakan game dari produsen mereka sendiri.

Tanda-tanda kalau kecanduan bermain game antara lain emosinya tinggi. Kalau ada yang melarang main game, pasti marah. “Kepala pusing kalau tidak main game. Berbeda sama anak kecil, kalau dewasa berantemnya diseriusin. Juga tidak bisa berpikir logis kalau ada potensi penipuan lawan jenis,” ujarnya.

Dampak buruk lain dari kecanduan game yaitu ketika fitur game sudah menguras uang. “Ada fitur black market. Di bulan tertentu dan event, pasti ada promo lagi. Godaan untuk mengeluarkan uang banyak, bisa sampai puluhan juta rupiah,” kata dia.

Cara mengakali kecanduan ini menurut Melon, kegiatan dan pola pikirnya harus dialihkan. Misal dengan memberi jeda untuk menonton aplikasi video atau media sosial.

“Kalau mau berhenti dari kecanduan game, harus balik ke kualitas permainan kita. Harus ada kreativitas yang meningkat. Tujuan main gamenya untuk apa itu harus jelas. Jangan cuma buat have fun karena tiap bulan selalu ada yang baru dan cepat bosan. Jangan semua game dibuat untuk rileks, tapi harus dengan tujuan. Jangan terjebak juga sama marketing promo dari game,” tutur Melon.(iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk TNI Muat Tank Terguling di Tol Perak-Waru KM 9.700

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Surabaya
Sabtu, 29 Januari 2022
27o
Kurs