Sabtu, 20 Agustus 2022

Kemampuan Musik Bisa Redakan Stress? Begini Fakta Psikologinya…

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Shutterstock

Lagu “Running Up That Hill” milik Kate Bush penyanyi beberapa minggu terakhir merajai tangga lagu global. Lagu lawas tersebut menjadi viral lantaran digunakan sebagai soundtrack serial “Stranger Things” Netflix.

Dalam plot cerita, karakter Max yang mengalami tekanan mental berhasil selamat dari jeratan monster berkat mendengarkan lagu tersebut. Ternyata dalam ilmu psikologi, musik atau lagu memang dapat menjadi media terapi bagi individu dengan masalah kesehatan mental.

Hal tersebut diungkapkan oleh Atika Dian Ariana Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair) dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (7/7/2022). Ahli Konseling Terapeutik itu menyebut musik termasuk dalam kelompok terapi seni yang umum digunakan sebagai media psikoterapi, baik secara mandiri dan termasuk dalam self-help.

Langkah pertama untuk memaksimalkan efek penyembuhan dari musik adalah mengenali jenis atau genre musik disukai. Hal tersebut penting karena musik memberikan efek terapeutik tidak secara langsung, melainkan lewat bagaimana individu memberikan apresiasi dan persepsi pada musik tersebut.

Atika mengungkapkan, jika pada tahun 90-an sempat populer musik klasik seperti “Beethoven” atau “Bach” yang digunakan untuk menstimulasi otak bayi. Namun, dia menekankan bahwa penggunaan musik sebagai psikoterapi tidak terpaku pada satu atau dua genre tertentu, karena bersifat custom dan sangat personal.

“Seseorang bisa saja merasa tenang mendengarkan musik beritme cepat seperti rock. Berarti dia memang disitu genrenya. Ada juga yang bisa lebih tenang dan lancar belajar jika mendengar musik instrumental,” jelasnya.

Langkah kedua adalah mengamati respon emosi dan fisik ketika mendengarkan musik. Mendengarkan musik secara mindful berguna untuk melihat bagaimana respon tubuh dan emosi. Langkah itu juga penting untuk menentukan musik apa yang benar-benar memberikan efek pada diri sendiri.

“Let’s say mendengarkan dangdut kalo kita merasa rileks, nyaman, happy, genre itu bisa dipilih. Tapi, kalau tiap mendengarkan gendang atau seruling dangdut yang ramai kita jadi pusing, ya jangan digunakan,” katanya.

Musik sebagai media terapi ternyata tidak hanya terbatas pada musik dan lagu yang diproduksi di studio. Atika menyebut suara alam seperti air, angin, burung, atau deburan ombak juga termasuk musik karena menghasilkan nada.

Pada sesi meditasi misalnya, Atika lebih merekomendasikan suara-suara alam yang menimbulkan efek tenang dan rileks. Selain itu, dia bercerita bahwa banyak rumah sakit besar di Indonesia, bahkan Eropa, sering menggunakan gamelan untuk terapi musik.

“Jadi terapi tidak terbatas pada mendengarkan saja, tapi juga bisa dengan memainkan musik itu sendiri,” imbuhnya.

Terkait emosi seperti stress, depresi, hingga masalah kecemasan dapat diatasi dengan terapi musik. Untuk itu, Atika menyarankan agar memilih lagu bernada positif.

“Untuk pasien konseling saya yang mengalami gangguan emosi negatif atau bad mood misalnya, saya akan betul-betul memastikan playlist mereka jauh dari nada atau lirik lagu beremosi negatif,” ungkapnya.

Nada dan lirik pada lagu ternyata sangat berpengaruh pada mood seseorang. Individu yang mengalami kesedihan hendaknya menghindari musik dengan nada dan lirik sedih. Sebaliknya, individu yang ingin meluapkan kemarahan dapat memakai lagu dengan nada kencang.

Akan tetapi untuk gangguan jiwa berat, musik saja tidak bisa membantu proses psikoterapi. Gangguan halusinasi atau kecenderungan bunuh diri memerlukan psikoterapi yang lebih progresif dengan bantuan psikoterapis. “Sebagai manusia kita pasti menghadapi tantangan. Dan orang yang tangguh pasti bisa menemukan jalan keluarnya,” tutupnya. (bil/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Sabtu, 20 Agustus 2022
29o
Kurs