Sabtu, 24 Februari 2024

Reparenting Disebut Sebagai Salah Satu Cara Berdamai dengan Inner Child

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi bermain game konsol. Foto: Pexels

Samanta Elsener psikolog menyebut reparenting, atau memenuhi kebutuhan dan keinginan masa kecil yang belum terpenuhi, adalah salah satu cara untuk menyembuhkan inner child yang tidak terluka.

Samanta menyebut hal tersebut sebagai respons dari pertanyaan mengenai cara menyembuhkan inner child yang terluka dan yang tidak terluka.

“Mungkin ada yang kita merasa waktu kecil kita belum terpuaskan. Apa yang menjadi harapan-harapan kita? Misal, karena faktor ekonomi, orang tua kita kayaknya dulu tidak bisa beli, kita video game, seperti itu kan. Sekarang udah bisa punya duit sendiri, bisa beli sendiri. Terus jadi mainnya tuh tidak selesai-selesai,” ujarnya dilansir Antara pada Senin (12/2/2024).

Samanta menjelaskan, inner child adalah konsep dari Carl Jung psikolog Swiss. Bermakna sosok anak kecil yang ada pada diri seseorang. Semua orang, ujarnya, memiliki inner child.

“Kadang kalau kita sama pasangan, maunya manja-manja tidak sih? Kita sama anak inginnya seperti gemas-gemas, lucu-lucu, kalau anak yang masih balita. Itu salah satu bentuk kita punya inner child dalam diri kita,” sebutnya.

Seiring perkembangan ilmu psikologi, ujarnya, ada istilah inner child trauma. Hal itu menurutnya, adalah situasi di mana ada sebuah isu, trauma atau luka yang belum dituntaskan.

Dia menjelaskan langkah-langkah reparenting yang benar menjadi salah satu cara menyembuhkan inner child seseorang yang tidak terluka.

Menurutnya, yang pertama adalah mengidentifikasi masalah emosional yang belum selesai di masa kecil, dan kalau perlu dengan bantuan psikolog.

Samanta mengatakan, pada umumnya masalah emosional saat masih kecil timbul karena orangtua sang anak mengabaikan kebutuhan, tidak hadir dalam hidupnya, bahkan sering menolak untuk memenuhi kebutuhan anak.

Kemudian, ujarnya, perlu ada dialog dengan diri sendiri guna mengajarkan agar dapat percaya kembali pada orang lain, dapat melihat orang lain secara bijaksana, dan menentukan apa saja yang diperlukan dari orang lain agar dirinya dapat percaya kembali.

Selain itu juga memberikan apresiasi terhadap diri sendiri, seperti dengan memuji perkembangan, kebijaksanaan, atau kemampuan diri. “Jadi bukan cuma berkaitan dengan kompensasi belanja-belanja,” imbuhnya. (ant/sya/saf)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Sabtu, 24 Februari 2024
27o
Kurs