Sabtu, 5 September 2026

AI Bikin Desain Makin Mudah, Dosen UK Petra Ungkap Skill yang Tak Bisa Digantikan

Laporan oleh Adit Jufriansyah
Bagikan
Ilustrasi AI Ilustrasi - Pemakaian teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Foto: Freepik

Poster, baliho, pamflet, hingga berbagai materi promosi yang terpampang di ruang publik kini memiliki kecenderungan visual yang serupa.

Perbedaannya sering kali hanya terletak pada informasi yang disampaikan. Kondisi ini tidak lepas dari semakin mudahnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan desain visual.

AI menawarkan proses pembuatan desain yang lebih murah, mudah, dan cepat. Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mengenai masa depan profesi desainer.

Jika semakin banyak orang menggunakan AI untuk menghasilkan karya visual, apakah profesi desainer akan semakin terpinggirkan?

Daniel Kurniawan Salamoon Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) dan International Program in Digital Media sekaligus Kepala Laboratorium Multimedia DKV Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengatakan, perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, menurutnya, desainer perlu beradaptasi dan berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi.

Daniel menggambarkan perkembangan tersebut seperti sebuah siklus. Pada masa lalu, poster dibuat secara manual dengan cara dilukis.

Seiring perkembangan teknologi, muncul berbagai perangkat lunak desain seperti Adobe Photoshop, CorelDRAW, dan perangkat lunak lainnya yang kemudian mengubah cara desainer bekerja.

Kini, perkembangan teknologi kembali menghadirkan tantangan baru melalui AI.

Menurut Daniel, kondisi tersebut membuat desainer tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuan teknis dalam mengoperasikan perangkat lunak.

“Seorang designer harus paham kalau tidak lagi sekadar jadi operasional softwarenya saja. Itu satu titik skill point yang mungkin designer tetap perlu mengerti,” ujar Daniel.

Kemampuan teknis, lanjutnya, tetap penting. Namun, desainer juga harus memahami dinamika sosial, pola komunikasi dengan masyarakat, serta bagaimana menerjemahkan kebutuhan dan persoalan ke dalam sebuah konsep visual.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek yang menurut Daniel masih sulit digantikan AI.

Daniel juga menyinggung hasil riset Adobe yang menunjukkan adanya pergeseran peran dalam pekerjaan kreatif. Pekerjaan kreatif secara perlahan bergerak ke arah direction, selection, evaluation, hingga strategic decision.

Artinya, kemampuan seorang desainer tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa mahir mereka menggunakan perangkat lunak desain.

Pada level junior, misalnya, seorang desainer sebelumnya kerap mendapat tugas membuat berbagai alternatif logo atau layout.

Dengan kehadiran AI, proses pencarian referensi dan eksplorasi visual dapat dilakukan dengan lebih cepat menggunakan teknologi tersebut.

Namun, Daniel menilai AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu untuk memberikan referensi, bukan sebagai eksekutor utama.

Menurutnya, keputusan kreatif tetap harus berada di tangan desainer. Jika AI sepenuhnya dijadikan eksekutor, ada risiko munculnya visual fatigue atau kelelahan visual karena karya yang dihasilkan cenderung memiliki pola dan karakter yang serupa.

“Pertama melihat bagus, tapi lama-lama muncul kelelahan visual,” katanya.

Tantangan lain muncul ketika desainer harus berhadapan langsung dengan klien dan memahami kebutuhan sebuah merek. Dalam proses tersebut, kemampuan teknis saja tidak cukup.

Ketika menangani sebuah brand, misalnya, desainer tidak hanya bertugas membuat logo. Mereka perlu memahami brand positioning, visual identity, target audiens, tone and manner, hingga merancang konsep kampanye dan visual direction.

Dengan demikian, kehadiran AI justru mendorong desainer untuk meningkatkan kemampuan yang berada di luar sekadar penguasaan perangkat lunak.

Teknologi dapat membantu mempercepat proses eksplorasi dan produksi, tetapi kemampuan memahami manusia, komunikasi, konteks sosial, serta mengambil keputusan kreatif tetap menjadi bagian penting dari profesi desainer. (dit/saf/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Sabtu, 5 September 2026
26o
Kurs