Minggu, 14 Juni 2026

BKKBN Jatim: Ayah Perlu Hadir 15 Menit Per Hari, Jangan Biarkan HP Jadi Anggota Keluarga Baru

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Ayah hadir untuk keluarga. Foto: iStock

Di tengah kesibukan kerja yang kerap membuat seorang ayah berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur mendorong para ayah untuk tetap hadir bagi keluarga, meski hanya 15 menit sehari.

Shodiqin Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur mengatakan kehadiran ayah dalam keluarga tidak harus lama, namun harus berkualitas. Momen seperti makan bersama, menemani bermain, atau sekadar duduk bersama anak sudah cukup bermakna.

“Ini ada momentum, ayah harus hadir 15 menit. Bisa menemani bermain atau makan bersama,” ujar Shodiqin saat memberikan sosialisasi di acara Sehat Terus, rangkaian perayaan 43 Tahun Suara Surabaya, Minggu (14/6/2026) .

Namun ia mengingatkan, kehadiran fisik saja belum cukup jika perhatian masih tersita oleh layar ponsel. Shodiqin menyoroti fenomena ketergantungan pada HP yang kini seolah menjadi “anggota keluarga baru” yang tak kasat mata.

“Tanpa terasa, di dalam keluarga sekarang sudah ada tambahan satu anggota keluarga, yaitu HP. Kalau ketinggalan dompet mungkin masih biasa, tapi kalau HP ketinggalan, rasanya berbeda,” katanya. “Jangan sampai kita sangat bergantung pada HP, tetapi lupa dengan keluarga.”

Ia mengajak seluruh keluarga untuk membuat kesepakatan sederhana: saat waktu kebersamaan tiba, HP disingkirkan terlebih dahulu.

Gerakan Ayah Mengantar Sekolah dan Mengambil Rapor

Untuk memperkuat peran ayah secara konkret, BKKBN telah menginisiasi sejumlah gerakan. Salah satunya adalah Gerakan Ayah Mengantar ke Sekolah yang dijalankan setiap bulan Juli, bertepatan dengan penerimaan siswa dan mahasiswa baru.

Shodiqin Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur bersama tim BKKBN Jawa Timur di stan sosialisasi pada acara Sehat Terus 43 Tahun Suara Surabaya, Minggu (14/6/2026). Foto: Yudha Suara Surabaya

Shodiqin menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi melalui surat edaran dari Menteri Kemendukbangga/BKKBN kepada para gubernur, bupati, dan wali kota agar memberikan dispensasi waktu bagi para ayah yang bekerja.

“Boleh telat, tapi mengantar anak dulu ke sekolah,” tegasnya.

Selain itu, ada pula Gerakan Ayah Mengambil Rapor, agar anak merasakan kebanggaan saat melihat sang ayah hadir dalam momen penting pendidikannya.

“Jangan sampai semuanya diserahkan kepada ibu. Ada guyonan, kalau anak sukses itu anaknya ayah, tapi kalau tidak sukses, anaknya ibu. Jangan sampai ada siklus seperti itu,” ujar Shodiqin.(iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Minggu, 14 Juni 2026
32o
Kurs