Kamis, 19 Februari 2026

Menjaga Kualitas Tidur Selama Ramadan, Saran Pakar Imunolog: Hindari Gawai dan Kopi

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
ilustrasi kurang tidur. Foto : PIxabay

Terdapat sejumlah perubahan yang terjadi pada kebiasaan sehari-hari umat Muslim saat memasuki bulan Ramadan.

Menurut dr. Ari Baskoro Spesialis Penyakit Dalam dan Imunolog Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), meningkatnya aktivitas ibadah selama bulan Ramadan seperti, salat tarawih, tadarus, hingga bangun dini hari untuk sahur, mempengaruhi siklus tidur.

“Aktivitas ini secara otomatis mengubah alokasi waktu dan sistem biologis tubuh sehingga memicu munculnya modifikasi homeostasis atau keseimbangan hayati, terutama pada ritme sirkadian (jam biologis) yang mengatur pola tidur manusia,” katanya, dalam keterangan yang diterima, Kamis (19/2/2026).

Ilustrasi menjalankan ibadah salat di Bulan Suci Ramadan. Foto: Grafis suarasurabaya.net

Meski durasi tidur otomatis berkurang, namun masyarakat masih bisa menjaga kesehatan tubuh dengan memastikan memperoleh kualitas tidur yang baik.

Menurut dr. Ari, secara alamiah aktivitas tidur dikendalikan oleh irama sirkadian yang mengikuti rotasi bumi 24 jam. Salah satu pemain kuncinya adalah hormon melatonin.

Hormon ini, kata dr. Ari, diproduksi oleh kelenjar pineal di otak dan berfungsi sebagai antioksidan, pereda nyeri, serta imunomodulator (pengatur sistem imun).

“Produksi melatonin sangat peka terhadap cahaya. Sekresinya akan meningkat pada lingkungan redup atau gelap, dan sebaliknya akan tertekan jika terpapar cahaya,” jelas dr. Ari dalam catatannya.

Dalam Journal of Medical Sciences pada 2024, sebuah riset yang dilakukan Senturk menunjukkan bahwa puasa Ramadan justru berpotensi meningkatkan level melatonin dalam darah, yang membantu tubuh tetap bugar dan memperkuat imunitas.

Agar tubuh tetap bugar saat menjalankan aktivitas harian dan ibadah sahur, dr Ari membagikan beberapa langkah praktis untuk menjaga kualitas tidur selama puasa Ramdan.

Pertama, hindari Blue Light yang berasal dari gawai atau perangkat elektronik menjelang tidur. Karena blue light dapat menekan produksi melatonin.

Ilustrasi menonton film secara maraton di handphone. Foto: istockphoto

“Sebaiknya, jauhkan ponsel setidaknya 30-60 menit sebelum memejamkan mata agar otak dapat beralih ke mode istirahat,” tambahnya.

Kemudian, hindari mengonsumsi kafein sebelum tidur karena dapat mengganggu siklus tidur dan kesulitan rileks.

“Usaha mendapatkan tidur berkualitas juga bisa dilakukan dengan mandi air hangat, mengatur suasana kamar, dan memastikan memiliki jadwla tidur yang konsisten,” ungkapnya.

Adapun dr. Ari juga menekankan menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan hati yang tulus dan ikhlas mempengaruhi “hormon bahagia” seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin, yang mampu menekan hormon stres (kortisol).

Jika hormon bahagia mendominasi, lanjut dr. Ari, tubuh akan mengalami relaksasi, fokus meningkat, dan peradangan atau inflamasi dalam tubuh pun mereda.

“Kualitas tidur jauh lebih penting daripada kuantitas. Tidur berkualitas ditandai dengan tubuh yang terasa bugar kembali dan batin yang damai saat terbangun,” pungkas dr. Ari.

Dengan pengaturan pola tidur yang tepat dan hati yang ikhlas dalam beribadah, Ramadan bukan hanya menjadi ladang pahala, tetapi juga momentum emas untuk menata ulang kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.(kir/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 19 Februari 2026
31o
Kurs