Rabu, 24 Juni 2026

Psikolog Ungkap Penyebab Anak Mengalami Gangguan Mental, Orang Tua Diminta Evaluasi Pola Asuh

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Seorang psikolog sedang berbicara dengan gadis remaja. Foto: iStock

Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja menjadi perhatian serius di Jawa Timur. Hasil pemeriksaan kesehatan gratis menunjukkan hampir 10 persen anak yang mengikuti skrining mengalami gejala kecemasan hingga depresi.

Cicik Swi Antika Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Timur menyampaikan temuan tersebut dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Jawa Timur.

Menurut Cicik, temuan masalah kesehatan mental pada kelompok usia dini perlu menjadi perhatian bersama karena gangguan psikologis pada anak sering kali tidak terlihat secara langsung.

Gerdaning Tyas psikolog Klinis anak, remaja dan keluarga mengatakan, angka tersebut menunjukkan kondisi kesehatan mental anak saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

“Kalau dibilang serius ya ini sangat serius sekali. Karena kalau kita berbicara masalah kecemasan, depresi itu sudah menjadi hal yang perlu kita waspadai. Bukan hanya memang buat anak remaja tapi juga kita secara dewasa juga demikian,” ujar Gerdaning dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya pada Rabu (24/6/2026).

Gerda menjelaskan, hasil skrining tersebut menjadi pengingat bahwa banyak anak di sekitar lingkungan keluarga maupun sekolah yang mungkin sedang membutuhkan bantuan, meski kondisi tersebut belum terlihat jelas.

Menurutnya, sejumlah perilaku anak yang selama ini sering dianggap sebagai bentuk kenakalan bisa menjadi sinyal adanya gangguan psikologis.

“Kadang secara tidak nyata kita merasa oh kok anak ini nakal, kenapa kok dia mungkin mengganggu di kelasnya dan lain sebagainya. Itu yang perlu kita ketahui,” katanya.

Gerdan menyebut beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua, antara lain perubahan emosi yang lebih mudah marah atau sensitif, menurunnya motivasi belajar, menarik diri dari lingkungan keluarga maupun teman, perubahan pola tidur dan makan, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Selain itu, anak yang mengalami kecemasan juga dapat menunjukkan gejala seperti sulit berkonsentrasi, mudah gelisah, dan mengalami perubahan perilaku dibandingkan kondisi biasanya.

“Biasanya memang yang tampak pertama itu mudah marah, emosi, gampang sensitif dibanding anak biasanya. Atau dia punya penurunan motivasi secara akademik. Biasanya dia oke-oke saja, tiba-tiba semangat belajarnya menurun,” jelasnya.

Gerda mengatakan, gangguan kecemasan dan depresi lebih banyak muncul pada usia remaja, terutama pada rentang usia belasan tahun. Namun, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku sejak anak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Ketika ada perubahan-perubahan secara perilaku, emosi yang berbeda daripada biasanya, itu harus kita cari tahu. Mungkin memang bukan kecemasan dan depresi, tapi banyak kondisi yang memang perlu kita warning di sini,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan faktor pemicu masalah kesehatan mental anak tidak hanya berasal dari diri anak, tetapi juga lingkungan keluarga, terutama pola pengasuhan orang tua.

Menurutnya, penanganan terhadap masalah psikologis anak tidak cukup hanya berfokus pada anak, tetapi juga perlu melibatkan orang tua untuk mengevaluasi pola asuh yang diterapkan.

“Permasalahan psikologis pada anak sejatinya kita tidak hanya memberikan treatment atau penanganan kepada anak, tapi juga kepada orang tua,” ujar Gerda.

Ia menambahkan, tekanan akademik, pengalaman traumatis, perubahan kehidupan sehari-hari, hingga kondisi keluarga seperti konflik rumah tangga dan tekanan ekonomi, dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi mental anak.

Karena itu, orang tua perlu memiliki kesadaran untuk memperbaiki pola pengasuhan apabila terdapat hal yang kurang tepat.

“Yang pertama adalah memang kita harus menyadari bahwa oh kayaknya kita ada yang salah nih, kayaknya pola asuh kita, kondisi ekonomi kita atau berbagai stres kehidupan lainnya itu juga akan mempengaruhi,” katanya.

Gerda menegaskan tidak ada orang tua yang sempurna dalam menjalankan pengasuhan. Namun, proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi perkembangan anak.

“Tidak ada orang tua yang sempurna kalau menurut saya. Pengasuhan itu berproses. Mungkin kemarin kita salah, tapi ketika kita sebagai orang tua menyadari dan membenahi itu, maka berjalan waktu kita bisa memberikan treatment yang lebih baik pada anak kita,” pungkasnya. (saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 24 Juni 2026
30o
Kurs