Selasa, 28 Juli 2026

Remaja Rentan Tekanan Mental, Orang Tua Diminta Lebih Peka

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Remaja dan orang tuanya. Foto: Pixabay

Nur Khumaidatuz Zahroh, Psikolog dari Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik mengatakan, remaja di era sekarang menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya.

Paparan media sosial yang tidak terkontrol membuat mereka rentan membandingkan diri dengan orang lain, sementara konten perundungan yang tersebar alih-alih menjadi refleksi justru kerap berubah menjadi inspirasi. Tekanan juga datang dari berbagai arah, mulai dari hubungan dengan teman sebaya, konflik dengan orang tua, hingga tuntutan akademik yang tinggi.

Nur menegaskan bahwa perundungan tidak selalu berbentuk fisik. Perundungan verbal, pengucilan dalam pergaulan, hingga cyberbullying seperti saling mengejek penampilan di media sosial juga berdampak serius terhadap rasa percaya diri remaja.

“Bullying bukan hanya fisik. Ada verbal, ada fisik, dan ada juga tidak diajak berkomunikasi,” ujarnya saat talkshow di Radio Suara Surabaya, Selasa (2/6/2026).

Ia mengingatkan bahwa kesehatan mental anak tidak bisa disederhanakan dengan menyalahkan satu pihak saja, misalnya orang tua atau pola asuh. Lingkungan luar, pengalaman menyaksikan kekerasan, dan dinamika dalam keluarga semuanya saling memengaruhi. Yang paling penting, kata Nur, adalah memastikan anak mendapatkan ruang aman untuk bercerita.

Terkait peran orang tua, Nur mendorong agar mereka lebih peka terhadap perubahan sekecil apapun pada anak, baik dalam perilaku, emosi, maupun keluhan fisik. Anak yang biasanya ceria tiba-tiba pendiam, mudah gelisah, gampang tersinggung, atau kerap mengeluh nyeri perut dan nyeri dada tanpa sebab medis yang jelas bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

“Orang tua jangan langsung berpikir, ‘paling capek saja.’ Kalau ada perubahan sedikit saja, coba dikenali dan didekati,” pesannya.

Nur juga menyoroti kecenderungan remaja yang mendiagnosis kondisi dirinya sendiri hanya berdasarkan informasi dari internet atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, yang menurutnya perlu dikomunikasikan agar tidak mengarah pada kesimpulan yang keliru.

Soal keengganan remaja untuk melapor ketika mengalami kekerasan, Nur memahami bahwa hal itu didorong oleh berbagai kekhawatiran, mulai dari takut masalahnya dianggap sepele, khawatir prosesnya rumit, hingga kepribadian yang tertutup. Ia menekankan bahwa dukungan teman sebaya dapat menjadi salah satu pendorong penting agar remaja berani berbicara dan mencari bantuan.

Pesan Nur kepada orang tua cukup sederhana namun bermakna: luangkan waktu untuk mengobrol dengan anak dari hati ke hati secara konsisten, terimalah perasaan mereka tanpa memberi stigma, dan jadilah pendengar yang hadir, bukan sekadar pemberi nasihat. Bagi para remaja, ia berpesan agar lebih bijak dalam memilah informasi yang mereka konsumsi di tengah derasnya arus media digital.(iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Truk Muat Besi Terguling di Sukomanunggal Surabaya

Muatan Menggunung

Surabaya
Selasa, 28 Juli 2026
29o
Kurs