Risiko jatuh pada kelompok lanjut usia (lansia) menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Selain berpotensi menyebabkan cedera hingga patah tulang, kejadian jatuh juga dapat menurunkan kemampuan bergerak, kemandirian, dan kualitas hidup lansia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, satu dari empat lansia mengalami kejadian jatuh setiap tahunnya. Dampaknya tidak hanya berupa cedera fisik, tetapi juga dapat membatasi mobilitas sehingga lansia kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Menghadapi risiko tersebut, penanganan cedera pada lansia perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perawatan ortopedi hingga rehabilitasi medik.
Menurut dr. Teddy Heri Wardhana, dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Siloam Hospitals Surabaya, keberhasilan penanganan pasien lansia tidak cukup hanya diukur dari pulihnya tulang dan sendi yang mengalami cedera.
Menurutnya, kemampuan pasien untuk kembali bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
“Pada pasien usia lanjut, keberhasilan penanganan tidak hanya dilihat dari perbaikan kondisi tulang dan sendi, tetapi kemampuan pasien kembali bergerak dan menjalani aktivitas dengan lebih baik,” kata Teddy di Surabaya pada Sabtu (31/10/2026).
Ia menilai penanganan ortopedi perlu didukung program rehabilitasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien.
Dengan demikian, proses pemulihan tidak berhenti pada penanganan cedera, tetapi juga membantu mengembalikan fungsi gerak tubuh.
Sedangkan dr. Nuniek Nugraheni, dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi menambahkan, rehabilitasi medik pada lansia dirancang secara personal dengan mempertimbangkan kondisi fisik serta kemampuan pasien.
Program tersebut mencakup latihan kekuatan otot, keseimbangan, koordinasi, hingga mobilitas. Latihan ini bertujuan mengurangi keterbatasan aktivitas sekaligus membantu lansia mempertahankan kemampuan bergerak secara mandiri.
“Melalui program yang disesuaikan, seperti latihan kekuatan, keseimbangan, koordinasi, dan mobilitas, kita dapat membantu mengurangi keterbatasan aktivitas serta mendukung lansia agar tetap aktif dan mandiri,” terang Nuniek. (kir/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

