Intermittent fasting atau pola makan dengan pengaturan waktu makan kerap menjadi tren karena dinilai efektif menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik.
Di sisi lain, umat Muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadan sebagai bentuk ibadah. Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari tujuan maupun penerapan gizinya.
Mahmud Aditya Rifqi Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga menjelaskan, perbedaan utama intermittent fasting dan puasa Ramadan terletak pada tujuan pelaksanaannya.
“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelas Mahmud dalam keterangannya yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (19/2/2026).
Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan time-restricted eating atau pengaturan jendela makan. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam, mulai sahur hingga berbuka, di mana umat Muslim tidak diperbolehkan makan maupun minum selama periode tersebut.
Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi metode yang lebih fleksibel. Pola yang paling populer adalah metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan delapan jam waktu makan. Selain itu, terdapat pula metode 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.
“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.
Dari sudut pandang ilmu gizi, Mahmud menegaskan pentingnya menjaga konsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan serta memiliki ritme biologis alami dalam mengatur proses metabolisme.
Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan dalam bentuk glikogen. Saat tubuh kekurangan asupan energi, cadangan tersebut dipecah kembali menjadi glukosa untuk memenuhi kebutuhan energi.
“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR) tetap terpenuhi. Kekurangan energi dalam jangka panjang dapat menyebabkan tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga massa otot.
“Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot,” jelasnya.
Karena itu, pengurangan kalori dalam intermittent fasting sebaiknya dilakukan bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.
Agar puasa Ramadan tetap sehat, Mahmud mengingatkan masyarakat tidak mengonsumsi makanan berlebihan setelah berbuka. Pola makan ideal adalah satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan camilan sehat bila diperlukan.
Ia juga menyarankan pemenuhan kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari yang dibagi saat berbuka, malam hari, dan sahur. Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah penting untuk menjaga rasa kenyang lebih lama dan kestabilan energi selama berpuasa.
“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkasnya. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
