Senin, 20 Juli 2026

Suradaya 2026 Angkat Isu Disinformasi dan Realitas Kota yang Luput dari Perhatian

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Belasan peserta Indonesia-Jerman mengikuti workshop fotografi di Wisma Jerman, Surabaya, pada Selasa (2/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Sebanyak 12 peserta dari Indonesia dan Jerman mengikuti fotografi internasional “Suradaya: What Remains Unseen” program kolaborasi dari Institut Français Indonesia (IFI) dan Wisma Jerman yang diselenggarakan di Surabaya.

Pramenda Krishna penanggungjawab budaya kolaborasi progam mengatakan bahwa proyek fotografi tersebut berfokus isu disinformasi.

“Dalam program ini, mereka akan riset dan membuahkan karya dalam bentuk fotografi mengenai what remains unseen dari Surabaya. Hal-hal apa yang sekiranya mereka temukan yang jarang diangkat di media di Surabaya,” katanya, pada Selasa (2/6/2026).

Program itu digelar sebagai bagian dari upaya untuk menumbuhkan pemikiran kritis dan keterampilan kaum muda melalui pendekatan antarbudaya terhadap fotografi dan media baru.

Peserta program tersebut berasal dari Indonesia dan Jerman dengan beragam latar belakang, mulai mahasiswa, profesional muda hingga peserta yang tengah melanjutkan studi.

“Yang Indonesia, selain dari Surabaya, mereka juga datang dari sejumlah daerah seperti Jombang, Malang hingga Jakarta,” ucapnya.

Workshop dalam program tersebut berlangsung selama empat minggu dengan pendampingan mentor dari Indonesia, Jerman, dan Prancis.

Rangkaian program terdiri dari tiga lokakarya yang berfokus pada aspek-aspek Surabaya yang sering terabaikan atau kurang dieksplorasi.

Fase pertama berupa lokakarya penelitian arsip visual yang bekerja sama dengan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya pada 2-6 Juni 2026 di Wisma Jerman.

Fase kedua berupa lokakarya fotografi dokumenter pada 8-13 Juni di IFI, dilanjutkan pada 15-20 Juni 2026 di Wisma Jerman.

Fase ketiga memasuki tahap lokakarya generasi gambar yang berfokus pada kecerdasan buatan, pada 22-26 Juni 2026 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair).

“Kemudian pada 27 Juni, para peserta akan mempresentasikan karya serta temuan mereka selama mengikuti program,” imbuhnya.

Selanjutnya, pada bulan Juli akan dilakukan pencetakan hasil karya dan proses kurasi pada sebelum dilakukan pameran di Orasis Artspace yang dijadwalkan pada September 2026.

“Setiap peserta akan mengembangkan proyek individual berdasarkan temuan masing-masing. Hasil workshop kemudian akan melalui proses kuratorial sebelum dipamerkan,” ucapnya.

Setelah dilakukan pameran perdana tersebut, selanjutnya karya peserta akan dipamerkan secara berkeliling di jaringan IFI Indonesia, Goethe Institut di Indonesia, kampus Hochschule Hannover Jerman, ENSP Arles Prancis, Berlin, Paris dan kampus mitra projek, yakni UK Petra Surabaya dan Unair.

Dengan kolaborasi tersebut, pihaknya berharap Suradaya 2026 tidak hanya menghasilkan karya fotografi, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang disinformasi dan berbagai realitas kota yang selama ini luput dari perhatian publik. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 20 Juli 2026
30o
Kurs