Sabtu, 19 September 2026

Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Berdampak pada Jantung? Ini Temuan Penelitian

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Paparan cahaya di malam hari dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung. Foto: Getty Images

Paparan cahaya saat tidur mungkin perlu mendapat perhatian lebih. Sebuah penelitian menemukan, paparan cahaya pada malam hari, bahkan dalam intensitas yang sangat rendah, berkaitan dengan perubahan struktur jantung serta peningkatan risiko berbagai penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal itu, menganalisis lebih dari 11.000 peserta UK Biobank berusia 40 hingga 69 tahun.

Para peserta tidak memiliki diagnosis penyakit kardiovaskular ketika penelitian dimulai.

Peneliti dari Tulane University memantau aktivitas dan paparan cahaya para peserta menggunakan perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan selama tujuh hari berturut-turut pada periode 2013-2015.

Sekitar tiga tahun kemudian, peserta menjalani pemindaian jantung. Kondisi kesehatan mereka kemudian dipantau selama delapan hingga 10 tahun berikutnya.

Hasil penelitian menunjukkan, paparan cahaya malam dengan intensitas 3 lux atau kurang berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsi jantung.

Paparan tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung, stroke, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Menurut Rasi Wickramasinghe ahli jantung di Houston Methodist Sugar Land Hospital, intensitas cahaya tersebut sebenarnya tergolong sangat rendah, bahkan bisa lebih redup dibandingkan cahaya yang masuk ke kamar dari lampu malam di lorong.

Pada peserta yang terpapar cahaya malam paling tinggi, peneliti menemukan adanya perubahan pada ventrikel kiri jantung.

Otot jantung pada bagian tersebut cenderung lebih tebal dan berat, dengan massa otot dan ketebalan dinding sekitar 2 persen lebih tinggi.

“Pada orang dengan paparan cahaya malam paling tinggi, temuannya bukan sekadar kumpulan hasil yang aneh, tetapi menunjukkan pola yang konsisten,” kata Wickramasinghe dilansir laman Health pada Sabtu (19/9/2026).

Penebalan otot jantung tidak selalu berarti kondisi yang lebih baik. Arash Bereliani ahli jantung di Cedars-Sinai Medical Center menjelaskan, jantung yang menebal dapat menjadi lebih kaku sehingga kemampuan jantung memompa darah dapat terganggu.

“Ini merupakan tanda adanya tekanan dan stres pada jantung,” kata Bereliani.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi tersebut belum membuktikan paparan cahaya malam sebagai penyebab langsung gangguan jantung.

Wickramasinghe mengatakan, sejumlah faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian mungkin turut berperan.

Misalnya, orang yang tinggal di lingkungan dengan cahaya malam lebih terang bisa saja juga terpapar kebisingan jalan atau polusi udara yang lebih tinggi.

Selain itu, pengukuran paparan cahaya hanya dilakukan selama satu minggu. Kondisi tersebut belum tentu menggambarkan kebiasaan seseorang sepanjang hidupnya.

Penelitian ini juga tidak secara khusus membedakan jenis cahaya, termasuk cahaya biru yang banyak dipancarkan telepon seluler dan perangkat elektronik.

Karena itu, belum dapat dipastikan apakah jenis cahaya tertentu memiliki kaitan yang lebih kuat dengan perubahan jantung.

Salah satu penjelasan yang mungkin adalah gangguan terhadap ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Paparan cahaya pada malam hari dapat mengganggu sistem yang mengatur siklus tidur dan bangun, termasuk mekanisme yang berkaitan dengan tekanan darah dan detak jantung.

Peneliti menemukan bahwa durasi tidur yang lebih pendek turut menjelaskan sekitar 24 hingga 49 persen hubungan antara paparan cahaya malam dan gangguan kardiovaskular.

Paparan cahaya meski hanya beberapa lux juga dapat menekan produksi melatonin. Hormon ini membantu tubuh memasuki kondisi tidur dan turut berperan dalam sistem kardiovaskular.

Dalam kondisi normal, tekanan darah turun sekitar 10 hingga 20 persen ketika seseorang tidur. Melatonin membantu proses fisiologis yang berkaitan dengan penurunan tekanan darah tersebut.

Menariknya, paparan cahaya pada siang hari tidak ditemukan dapat menghilangkan hubungan antara cahaya malam dan perubahan pada jantung.

“Paparan cahaya pada siang hari tidak menunjukkan hubungan dengan struktur maupun fungsi jantung,” ujar Bereliani.

Karena itu, mengurangi cahaya di kamar tidur dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membatasi paparan cahaya malam.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain menggunakan tirai penghalang cahaya, menutup lampu LED dengan bahan yang tidak tembus cahaya, serta memindahkan ponsel dan perangkat elektronik dari tempat tidur.

Jam digital juga dapat diganti dengan jam analog. Jika lampu malam tetap diperlukan, sebaiknya ditempatkan dekat lantai. Lampu dengan sensor gerak dapat menjadi pilihan karena hanya menyala ketika dibutuhkan.

Penggunaan penutup mata juga dapat membantu mengurangi cahaya yang masuk ke mata selama tidur.

Namun, menjaga kamar tetap gelap bukan berarti menjadi satu-satunya cara mencegah penyakit jantung. Wickramasinghe menekankan pentingnya faktor yang sudah diketahui berperan terhadap kesehatan kardiovaskular, seperti rutin berolahraga, menerapkan pola makan seimbang, tidak merokok, serta mengendalikan tekanan darah, kadar kolesterol, dan glukosa. (saf/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 19 September 2026
32o
Kurs