Cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi banyak merugikan petani tembakau. Tanaman tembakau jadi stress dan produktivitas tanaman jadi turun.
Seperti kasus yang dialami petani tembakau di Madura, akibat cuaca tidak tepat untuk menanam tembakau, membuat harga tembakau di pasaran turun hingga 20%. Menyikapi hal ini, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mengusulkan ke lembaga pusat untuk memberikan dana khusus prakiraan cuaca untuk tanam tembakau.
ABDUS SETIAWAN Sekretaris Jenderal APTI pada suarasurabaya.net, Rabu (14/11), mengatakan, selama ini untuk prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMG bersifat umum dan free. Tapi untuk special services kebutuhan analisa cuaca yang tepat menanam tembakau harus ada kontribusi.
Usulan itu, kata ABDUS, akan ditindaklanjuti dengan MoU tahun depan. Hanya saja besaran dana dari APBN belum diketahui. Rencananya, spesial services untuk 6-7 propinsi yang selama ini menjadi basis penghasil tembakau seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Delli Sumatera Utara.
“Asosiasi meminta data analisa secara terperinci karena karakter masing-masing propinsi berbeda. Hanya saja yang menjadi persoalan adalah siapa yang akan mendistribusikan informasi tersebut setelah muncul analisa data untuk tanam tembakau dari BMG,”ujarnya.
Selama ini, kata ABDUS, baru Jember yang sudah memiliki data analisa khusus untuk tanam tembakau dari BMG. Anggaran dari APBD Jember dengan kontribusi ke BMG sebesar Rp 10 juta untuk dua musim. Yang bertanggung jawab mengurusi hal tersebut adalah Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ).
Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan Jawa Timur, produksi tembakau Jawa Timur mencapai 80 ribu ton/tahun dengan omset perdagangan mencapai Rp 56 trilyun. Di Jawa Timur sendiri tercatat 16 kabupaten penghasil tembakau dengan luas lahan 110 ribu hektar. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

