Pasar segmen retail di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terus ramai dan meningkat. Ini terlihat dari beberapa pemain baik asing maupun lokal di segmen retail di Indonesia.
KUSWANTO GUNADI Presiden Direktur PT Makro Indonesia pada suarasurabaya.net, di sela Makro Positioning Business Gathering , di Hotel Shangri-La, Selasa (31/07), mengatakan ramainya segmen retail sudah terasa sejak tahun 1997. Saat ini pasar sudah terbagi sesuai jumlah pemainnya.
Secara statistik, diakui KUSWANTO, belum ada data berapa angka pasar segmen retail. Yang jelas pangsa pasarnya cukup besar, apalagi dari sisi jumlah penduduk Indonesia lebih dari 220 juta jiwa. Berikut penjelasan KUSWANTO, {clip*1}.
Terkait pengaturan pemerintah terhadap segmen retail antara pasar tradisional dan modern, menurut KUSWANTO, memang itu harus dilakukan pemerintah. Tujuannya, tidak terjadi tumpang tindih.
Kehadiran pasar modern, ungkap KUSWANTO, sebenarnya tidak pernah ‘melibas’ pasar tradisional. Ini terbukti dengan kuatnya pasar tradisional yang ada di Bumi Serpong Damai, dimana pasar tradisional benar-benar dikelola secara profesional.
Bukti lainnya, kata KUSWANTO, sejak 10 tahun lalu tidak ada pedagang asongan keliling. Sekarang cukup banyak dan itu mampu membentuk ‘pasar’sendiri. “Peraturan pengaturan pasar tradisional dan modern cukup penting menghindari tumpang tindih. Jika pasar tradisional tidak berbenah jelas akan tertinggal,”ujarnya.
Disamping itu, KUSWANTO menegaskan, kehadiran pasar modern tidak seluruhnya hanya mencari bisnis saja tapi juga mengembangkan bisnis bersama kalangan UKM.. Seperti dilakukan Makro dimana 15%-20% adalah UKM yang rata-rata menjadi suplier produk segar.
Sebagai pasar modern segmen peritel, tambah KUSWANTO, Makro tidak memiliki pesaing. “Karena konsumen kita disamping Horeka dan servis, adalah pedagang warung, mini market dan pengusaha kecil lainnya. Kita tawarkan konsep dengan nilai investasi tertentu untuk mengembangkan bisnisnya,”pungkasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

