Program peningkatan teknologi industri yang diluncurkan Departemen Perindustrian tahun ini, membawa angin segar bagi pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jawa Timur. Ini diungkapkan C SHERLINA KAWILARANG MBA PhD Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Timur, Senin (30/03).
Ditemui suarasurabaya.net, di sela seminar sehari “Konsolidasi Industri TPT Jawa Timur dalam Upaya Meningkatkan Daya Saing Produk TPT Nasional” di Mercure Grand Mirama, Senin (30/04), SHERLINA mengatakan, selama ini pengusaha TPT berada di tengah stagnasi perubahan investasi di sektor industri TPT sebagai akibat disfungsi intermediasi perbankan.
Dengan investasi di permesinan baru diharapkan daya saing produk TPT tidak terganjal lagi oleh umur mesin yang sudah tua. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jawa Timur memiliki karakteristik tersendiri. Secara jumlah, di Jawa Timur terdapat 151 perusahaan atau 5,7% dari total jumlah TPT nasional yang mencapai 2661 perusahaan.
Nilai investasi di sektor industri TPT di Jawa Timur, menurut SHERLINA, sangat besar. Ini mengingat 52% dari total jumlah perusahaan adalah perusahaan spinning dan wipping yang padat modal. Ini juga tercermin dari nilai total ekspor, dimana 72% berasal dari ekspor produk benang dan kain.
Dengan karakter seperti itu, kata SHERLINA, dukungan sektor energi dan perbankan sangat diperlukan. API sendiri melakukan beberapa terobosan untuk meningkatkan teknologi industri sektor TPT. Diantaranya, tahun 2005 berhasil membuat kesepakatan bersama PLN tentang daya plus plus dan dengan kepelabuhan berhasil menurunkan Terminal Handling Charge (THC).
Sektor industri TPT baik secara nasional maupun di Jawa Timur, ungkap SHERLINA, terus meningkat. Secara nasional, sektor industri TPT menyumbang US$ 2,1 milyar untuk pembentukan produk domestik bruto. Dengan dukungan pemerintah melalui PP No.7 tahun 2007, sangat membantu pengusaha TPT. Berikut penjelasan SHERLINA, {clip*1}.
SHERLINA menambahkan ekspor TPT Jawa Timur pada 2005 sebesar US$ 359.630.426. Kontribusi terbesar dari ekspor kain (43,27%), benang 29,42%, disusul garmen (21,11%) dan sisanya lain-lain. Tahun 2006 tercatat US$ 406 juta atau naik 15% dari tahun 2005.
Teks foto :
– C SHERLINA KAWILARANG
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

