Penjualan BYON Notebook pada tahun pertama dipasarkan, optimis mencapai target yakni 10%-15% dari market size pasar notebook. Ini dipicu karena 6 komponen BYON berstandar CBB, mudah diganti tanpa tergantung dari vendornya.
CHRIS IRWAN JAPARI Marketing Director Leadvision Technology pada suarasurabaya.net, Kamis (26/04), mengatakan, dengan komponen berstandar CBB maka life time produk cukup panjang dan bisa diwariskan. Sementara notebook lainnya, jika motherboard-nya rusak, cari penggantinya akan susah dan mahal.
Terkait dengan harga BYON, CHRIS mengatakan, menyesuaikan pasar notebook. Memang pada tahun pertama dipasarkan, BYON yang meng-klaim sebagai notebook brand lokal setara produk impor, mematok harga Rp 10 juta per unit.
Melihat kondisi pasar notebook dengan pergeseran cenderung menurun, BYON juga melakukan penyesuaian harga mulai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta lebih. Berikut penjelasan CHRIS, {clip*1}.
CHRIS menjelaskan konsumen BYON cukup beragam tergantung anggaran yang dimiliki. Bagi pemula yang biasanya anggaran terbatas akan memilih notebook dengan processor Celeron.
Produk BYON, ungkap CHRIS, processor Celeronnya bisa di-up grade hingga ke Core 2 Duo dan bisa menjalankan operating system Windows Vista sebagai program mutakhir yang dikeluarkan Microsoft.
Pada minggu ketiga Mei 2007, CHRIS mengatakan, BYON akan me-launching produk terbaru dengan Intel Processor Santarosa. Processor ini lebih cepat dan dikemas dalam layar BYON 13 inchi.
Teks foto :
1. CHRIS IRWAN (kiri) dan TUKUL ARWANA (kanan) dalam talkshow tentang BYON
2. Beragam tipe BYON Notebook dipamerkan di Komputek Computer Show, dengan kisaran harga Rp 5 juta hingga Rp 10 juta lebih
Foto : TITIN suarasurabaya.net.
NOW ON AIR SSFM 100

