Kebutuhan masyarakat terhadap mal akan selalu ada. Kalau dikatakan mal di Surabaya mengalami titik jenuh, bisa jadi karena mal-mal tersebut menawarkan konsep yang sama. Demikian penilaian NINIK P NATHAN Director PT Lippo Karawaci Tbk pengembang City of Tomorrow (CiTo) di Surabaya, Senin (05/03).
Pada suarasurabaya.net, NINIK menjelaskan, jika ada mal baru dengan konsep yang baru pasti tetap diminati penyewa maupun pembeli. Ini sudah dibuktikan dengan CiTo yang menawarkan konsep Superblock yang pertama bagi Lippo Karawaci Tbk untuk Surabaya.
Konsep Superblock, ungkap NINIK, penggabungan antara mal, apartemen, hotel dan perkantoran atau all in one. Ini yang ditawarkan Lippo dan ternyata ada permintaan yang cukup tinggi.
NINIK mengatakan memang sebagian tenant-nya berasal dari Lippo Grup tapi tetap membuka peluang dari luar Lippo Grup. Di satu sisi, lokasi yang dipilih CiTo sangat strategis dan ini menguntungkan pihaknya. Berikut penjelasan NINIK, {clip*1}.
Menurut NINIK bagi pemain yang ingin mengembangkan mal baru di Surabaya harus menawarkan konsep yang berbeda pula. Dengan demikian bisa survive dan tidak menambah kejenuhan mal yang sudah ada sebelumnya.
Bahkan semakin banyak mal dengan tenant yang sama, kata NINIK, tidak ada masalah. Properti dibangun sebisa mungkin menimbulkan satisfied bagi pengunjungnya. Jika properti itu semakin dekat dengan tempat tinggal, sudah pasti peluang mendapatkan pengunjung juga semakin besar.
Seperti di Malaysia dan Singapura, menurut NINIK, jumlah mal terus bertumbuh karena ada kebutuhan. Apalagi Jakarta dan Surabaya makin padat wilayahnya, mendorong warganya akan mencari mal yang terdekat dengan tempat tinggal.
Sampai saat ini, Lippo Karawaci Tbk memiliki 7 mal yang sudah beroperasi ditambah CiTo tahap finishing. Ketujuh mal tersebut yakni WTC Matahari Serpong, Metropolis Town Square Tangerang, GTC Makassar, Depok Town Square, Malang Town Square, Paladium Medan, Bellanova Country Mall yang lebih mengekspos outdoor activity.
Bahkan di Binjai, Lippo Karawaci membangun mal yang representatif sehingga masyarakat tidak harus pergi ke Medan atau ke Aceh. “Sama halnya seperti di sini, misalnya antara Mojokerto dan Kediri, harus ada satu mal yang mengakomodir kebutuhan masyarakat yang berada di antara kedua kota sehingga tidak harus travel ke Surabaya,”pungkasnya.
Teks foto :
1. NINIK P NATHAN
2. Mal di Surabaya terus bertambah dengan menawarkan konsep hampir sama
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

