Senin, 19 Oktober 2026
Beras di Surabaya Naik 40,54%

Berdampak Pada Kenaikan Penduduk Miskin

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Dampak kenaikan beras yang paling sensitif adalah rumah tangga miskin. Ini disebabkan 24% pemenuhan kalorinya dari beras.

Sesuai data 2000-2005, elastisitas kemiskinan dan kenaikan harga beras sebesar 0,53%. Kenaikan harga beras akan berdampak pada kenaikan penduduk miskin.

Untuk itu, kata SUTONO Kepala Perum Bulog Divre Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Rabu (14/02), operasi pasar yang dilakukan serentak di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur mulai Kamis (15/02) besok akan tetap berjalan hingga harga beras medium harus normal kembali, {clip*1}.

SUTONO menjelaskan Surabaya termasuk daerah yang mengalami kenaikan beras tertinggi dibanding daerah lain. Berdasarkan realisasi OPM (Operasi Pasar Murah) dan perkembangan harga beras, di Surabaya bisa naik 40,54% terhadap harga eceran tertinggi (HET) yang diharapkan yakni Rp 3700/kg.

Malang berada di urutan kedua dengan kenaikan 37,84% terhadap HET yang diharapkan, disusul Madura naik 35,14%. Kenaikan terendah terjadi di Banyuwangi yakni 20,27%.

Harga OPM, ungkap SUTONO, dari Bulog Rp 3450/kg, di Satgas Rp3525/kg dan di tingkat pengecer Rp 3700/kg.Untuk margin pengecer sebesar Rp 175/kg ditentukan/direkomendasikan oleh Disperindag setempat.

Sementara posisi stok beras Bulog Divre Jatim saat ini 89 ribu ton. Untuk Raskin 44 ribu ton dimana ini berasal dari sisa Raskin 18 ribu ton dan Raskin Maret 26 ribu ton. Dan peluang OPM sebanyak 45 ribu ton.

SUTONO menambahkan total volume OPM ditargetkan 3000 ton per hari. Ini dibagi berdasarkan Sub Divre Bulog di Jawa Timur, yakni Kediri 250 ton/hari, Malang 250 ton/hari, Jember 250 ton/hari, Surabaya 1000 ton/hari dan Sub Divre lainnya 1250 ton/hari.

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
30o
Kurs