Senin, 19 Oktober 2026

Produk Saham Syariah Direspon Positif

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Perkembangan produk saham berbasis syariah yang dibuat Bursa Efek Jakarta (BEJ) direspon positif oleh beberapa fund manager. Bahkan produk tersebut dijadikan produk reksadana.

MS SEMBIRING Direktur BEJ pada suarasurabaya.net, Selasa (06/02), mengatakan, produk saham berbasis syariah sudah dilaksanakan sejak tahun 2000. Sampai saat ini, BEJ mempunyai 240 saham yang sudah memenuhi kriteria syariah.

Dari 240 itu disaring jadi 60 saham terbesar dari kapitalisasinya. Kemudian disaring lagi menjadi 30 yang paling likuid diperdagangkan setiap hari. Sebanyak 30 saham paling likuid ini dijadikan Jakarta Islamic Index.

SEMBIRING mengatakan Bapepam sudah mengeluarkan aturan khusus untuk syariah. Dengan demikian, perusahaan bisa menentukan mau ke arah syariah atau tidak, sejak awal memperdagangkan sahamnya.

Regulasi tentang saham syariah, menurut SEMBIRING, sudah cukup memadai. “Meski banyak mashab tapi tidak mengurangi makna syariah dari satu produk dengan produk lainnya. Ukuran saham paling likuid yang masuk dalam Jakarta Islamic Index berdasarkan bisnis nature-nya yang diserahkan BEJ ke Dewan Syariah Nasional di MUI,”ujarnya.

Kinerja saham syariah, tegas SEMBIRING, cukup bagus jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berikut penjelasan Direktur BEJ, {clip*1}.

Transaksi perdagangan saham syariah mendominasi saham-saham yang ada di BEJ. Dari nilai transaksi harian di BEJ sebesar Rp 2 trilyun, 50%-nya berasal dari saham syariah.

Dalam Rencana Anggaran Tahun 2007, BEJ menargetkan transaksi harian Rp 1,8 trilyun per hari. Target ini naik sebesar 10% dibandingkan tahun 2006 yakni Rp 1,650 trilyun per hari. sampai awal 2007 sudah terealisasi Rp 2 trilyun.

Laba 2007 diproyeksikan Rp 35 milyar atau naik 15% dari tahun 2006. Total outstanding BEJ 2006 sebesar US$ 1300 milyar dan di 2007 diproyeksikan tumbuh 20% atau sebesar US$ 1400 milyar.

Terkait banjir yang melanda wilayah Jabodetabek, SEMBIRING menjelaskan, tidak berdampak pada transaksi perdagangan di BEJ. Ini disebabkan sistem perdagangan di BEJ melalui remote.

“Para investor bisa melakukan trading dari masing-masing kantornya. Yang terganggu hanya karyawan dari perusahaan investor saja. Dampak yang terlihat justru terjadi di beberapa pusat perekonomian seperti di Sunter yang menjadi pusat industri otomotif, sentra ekonomi di Kelapa Gading yang sampai saat ini lumpuh. Bisa terlihat kehilangan omset yang cukup besar di kawasan tersebut,”paparnya.

SEMBIRING menambahkan banjir yang melanda ibukota tidak akan mempengaruhi investor yang akan masuk. Banjir merupakan bencana dan investor hanya akan melihat bagaimana pemerintah menanggulangi bencana tersebut.

Teks foto :
– MS SEMBIRING
Foto : Dok.suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
28o
Kurs