Di Indonesia lebih banyak yang jadi karyawan, kurang banyak pengusahanya. Akibatnya, gaji karyawan tidak bisa tinggi. Ini berbeda dengan negara-negara yang banyak pengusahanya, sehingga mampu membayar karyawannya gaji tinggi. Demikian ungkap PURDI E CHANDRA Presiden Direktur Primagama Grup dalam serial seminar “Cara Gila Jadi Pengusaha”, di Hotel Novotel Surabaya, Kamis (25/01) sore.
Dihadapan ratusan peserta, PURDI mencontohkan kondisi negara maju dimana banyak pengusaha dan karyawannya bergaji besar. Ia juga memaparkan kalau ingin jadi pengusaha, sebenarnya tidak perlu pintar.
“Kalau pintar biasanya hanya bisa jadi karyawan karena pikirannya selalu linier. Ini artinya, dalam setiap aktivitasnya hanya menggunakan otak kiri. Sementara untuk jadi pengusaha harus menggunakan otak kanannya, dimana pola pikirnya tidak berurutan dan tidak perlu pintar,”ujarnya.
PURDI menjelaskan ada perbedaan yang nyata antara orang yang punya bakat menjadi pengusaha dan yang tidak punya bakat jadi pengusaha. Orang yang punya bakat, tidak terlalu memusingkan berapa lama balik modal, tapi langsung action.
Sebaliknya, yang tidak punya bakat selalu penuh perhitungan tentang resiko dan apakah bisa balik modal. Padahal untuk berbisnis selalu ada resiko. “Sejarah asal usul resiko sebenarnya sama dengan rejeki. Kalau resikonya kecil, berarti rejekinya kecil. Untuk itu, tidak perlu takut dengan resiko,”papar PURDI yang disambut gelak tawa peserta.
PURDI mengatakan untuk jadi pengusaha harus ‘malas’ dan butuh ketekunan. Untuk itu, PURDI menganjurkan pada peserta jika anak-anaknya ingin jadi pengusaha harus dibiasakan ‘malas’ sejak usia dini. Saran PURDI ini membuat peserta tertawa melihat kekocakan penampilan pemilik 570 outlet Primagama di seluruh Indonesia.
Lalu bagaimana cara menggunakan otak kanan ? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan menurut PURDI. Pertama, dibiasakan berpikir tidak urut, mencari olahraga yang tidak memakai hitung-hitungan seperti jalan kaki, berenang. Kedua, dalam hal spiritual bisa memberikan sumbangan sebanyak-banyaknya pada orang yang membutuhkan.
“Kalau ingin jadi pengusaha ciptakan mesin uang bisnis melalui gaya hidup dan karya. Melalui gaya hidup, ciptakan uang dengan masa depan bukan masa lalu. Misalnya, ciptakan penghasilan semula hanya Rp 5 juta per bulan atau Rp 60 juta per tahun, gantilah penghasilan Rp 60 juta per tahun ini menjadi Rp 60 juta per bulan, Rp 60 juta per minggu atau Rp 60 juta per hari. Orang yang berpikir dengan otak kanan, tidak pernah berpikir tidak ada yang tidak mungkin terjadi,”ungkapnya.
Sementara dari sisi karya, tambah PURDI, bisnis bisa disinergikan dengan properti. “Bagaimana dengan membeli properti justru kita mendapatkan uang bukan mengeluarkan. Dan jangan takut memiliki hutang banyak, karena dengan hutang banyak kita memberi bunga pada bank, tingkat sosial kita juga jadi lebih besar. Mindset karyawan memang berbeda dengan mindset pengusaha,” pungkasnya.
Teks foto :
– PURDI E CHANDRA memotivasi peserta seminar untuk mulai mengasah kemampuan otak kanannya
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

