Bursa Efek Surabaya (BES) akan memfasilitasi obligasi pemerintah yang diperdagangkan di sistem bursa. Saat ini BES menyusun kesepakatan mekanismenya bersama Bapepam, Dirjen Pengelolaan Utang dan Bank Indonesia.
GUNTUR PASARIBU Direktur BES pada suarasurabaya.net, Senin (22/01), mengatakan, selama ini obligasi pemerintah yang sudah listed, tapi sistem perdagangannya lewat sistem bursa baru ORI tahap pertama. Diharapkan ORI tahap kedua untuk secondary market-nya bisa dilakukan secepatnya di BES setelah keluar kesepakatan mekanisme tersebut.
GUNTUR menilai jika ORI tahap dua diperdagangkan di BES, pemerintah akan menghemat cukup besar biaya penerbitan obligasi. Misalnya dari perhitungan total outstanding bonds market tahun 2007 sebesar Rp 420 trilyun, diambil 1%-nya saja sudah Rp 4,2 trilyun.
Pemerintah bisa menghemat biaya untuk penerbitan obligasi yang ada sekarang baik untuk di buy back atau penerbitan obligasi baru. Berikut penjelasan GUNTUR, {clip*1}.
Jika mekanisme ini berjalan pada kuartal pertama 2007, menurut GUNTUR, pasar makin efisien untuk bonds market. Dengan demikian partisipasi perbankan, perusahaan efek bisa bertransaksi dengan mekanisme bursa.
GUNTUR menambahkan sampai akhir 2006 kemarin, tingkat gagal bayar di BES sangat kecil yakni 0,2% dibandingkan 0,3% pada 2005. Dari total outstanding bonds sebesar Rp 60 trilyun, gagal bayar untuk obligasi value-nya hanya Rp 400 milyar.
Hal tersebut menggambarkan jika ada investor institusi maupun ritel membeli obligasi tanpa memilah obligasi yang listed, resiko nasabah hanya 0,3% saja. Kalau dibandingkan perbankan yang memberikan kredit ke nasabah tingkat NPL (Non Performing Loan)-nya sampai lebih dari 10%. “Ini keuntungan perusahaan yang menerbitkan obligasi, lebih prudent dan nyaman bagi nasabah,”pungkasnya.
NOW ON AIR SSFM 100

