Dengan piawai seorang pelajar SMA yang ditemui suarasurabaya.net, Sabtu (8/8/2015) menyanyikan komposisi Titanium yang dipopulerkan Sia.
Tapi saat diminta menyanyikan Bagimu Negeri, pelajar tersebut ternyata gelagapan. Tak satu baitpun mampu diselesaikan.
Sambil tersipu, pelajar itu mengaku tidak hafal, tapi dirinya tahu Bagimu Negeri adalah lagu wajib nasional. “Nggak hafal. Bagimu Negeri lagu wajib nasional kan?” katanya.
Barangkali untuk menghibur dirinya sendiri, sambil menutupi rasa malu, pelajar ini justru menawarkan menyanyikan Garuda Pancasila. “Boleh??” sambungnya.
Lalu lagu wajib nasional ciptaan Sudharnoto itupun ternyata tidak mampu dinyanyikan dengan benar bahkan juga tidak sampai habis.
Menurut Isa Anshori pengamat pendidikan Hotline Pendidikan Surabaya, hal itu mungkin saja terjadi. Sebab bukan mustahil pelajar saat ini justru lebih hafal syair grup band luar negeri, daripada lagu wajib nasional.
Paparan berbagai aspek kehidupan dari barat, seperti lagu-lagu dan munculnya ikon-ikon baru anak muda langsung menjadi bagian dari kehidupan pelajar dan generasi muda dinegeri ini.
“Bayangkan saja kalau untuk mengunduh lagu-lagu grup band barat, dengan gawai yang mereka miliki begitu mudahnya. Sedangkan untuk mencari dan mendengarkan lagu-lagu wajib nasional seringkali kesulitan,” papar Isa.
Oleh karena itu, sambung Isa, dibutuhkan aksi-aksi nyata dalam konteks membangun kesadaran untuk mengenali dan kemudian mempelajari lagu-lagu wajib nasional itu sendiri.
“Sekolah bisa menjadi bagian penting dalam aksi nyata tersebut. Memperdengarkan dan menyanyikan bersama Indonesia Raya sebelum mulai belajar bisa diwajibkan bagi pelajar,” tegas Isa Anshori pada suarasurabaya.net. (tok/dop)

NOW ON AIR SSFM 100

