Minggu, 26 April 2026

Pendekatan Penanganan Stunting di Daerah Harus Lebih Praktis

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Ilustrasi

Prof. Bambang Wirjatmadi Pakar Kesehatan Masyarakat Unair mengatakan, sosialisasi pencegahan kasus gagal tumbuh atau Stunting perlu dilakukan lebih praktis daripada bersifat pendekatan konsep. Pasalnya, masyarakat di daerah yang budayanya masih melekat kuat, akan kesulitan untuk memahami istilah Stunting dan bahayanya.

Asal de e isok ngguyu ngguyu, (asal dia bisa tertawa, red) makan, kerja, tapi mbok kandani bahaya stunting yo, ora dirungokne (kamu beritahu soal bahaya stunting ya tidak didengarkan, red),” ujar pakar Kesehatan Masyarakat Unair tersebut.

Ia menegaskan, pendekatan bersifat praktis lebih bagus diterapkan pada masyarakat di daerah. Ia menyontohkan, salah satu penyebab Stunting adalah kekurangan Zinc, maka yang perlu dilakukan adalah membuat budidaya perikanan di daerah tersebut sehingga budaya makan ikan akan terbangun.

Selain itu, Stunting juga dapat dicegah jika anak-anak terbiasa mendapatkan rangsangan motorik yang baik sejak kecil. Padahal, menurutnya, makin sering beraktivitas, maka pertumbuhan tulang panjang makin panjang,

“Orang Indonesia kan gak pendek. Ada dua, gizi dan motoriknya gerak,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 persen atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting. (bas/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Minggu, 26 April 2026
27o
Kurs