Minggu, 25 Januari 2026

Pengamat: Tidak Ada Kota yang Sepenuhnya Bebas Banjir, Surabaya Diuntungkan Manajemen Sungai Brantas

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Pintu air Gubeng atau disebut juga Bendung Karet Gubeng mulai dibangun pada tahun 1843 dan tuntas pada tahun 1846. Foto Shava suarasurabaya.net

Tjuk Suwarono pengamat sekaligus jurnalis senior menyatakan, tidak ada satu pun kota besar di dunia yang benar-benar bisa terbebas dari banjir. Kualitas manajemen sungai dan sistem drainase bisa menjadi faktor pembeda, apakah banjir itu bisa dikendalikan atau justru menjadi bencana rutin.

Dalam analisanya, dia mencontohkan Kota Tokyo di Jepang, sebagai model paling menonjol dalam sistem pengelolaan dan pencegahan banjir. Kota megapolitan itu membangun jaringan drainase raksasa bawah tanah yang dikenal sebagai G-Cans atau Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel.

“Terowongan raksasa itu di kedalaman 25,4 meter atau kira-kira setara dengan gedung enam lantai,” tulisnya.

Sistem tersebut mulai dibangun pada 1993 dan rampung pada 2006, dengan biaya sekitar Rp36 triliun. Lima kilo beton besar terhubung terowongan sepanjang 6,5 kilometer berfungsi menahan limpahan air dari sungai-sungai yang melintasi Tokyo.

Tokyo bahkan disebut The New York Times sebagai kota dengan risiko bencana paling kompleks karena dilalui lima sungai besar, puluhan sungai kecil, rawan badai, cuaca ekstrem, gempa bumi, penurunan muka tanah, dan sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Selain Tokyo, Tjuk juga menyoroti London dengan Thames Barrier, Rotterdam dengan Maeslantkering, serta Wuhan di China yang menerapkan konsep sponge city atau kota busa yang menyerap air hujan melalui taman dan infrastruktur berpori.

“Kota-kota itu membuktikan dengan investasi besar dalam infrastruktur dan perencanaan kota yang matang, risiko banjir perkotaan dapat dikendalikan,” katanya.

Surabaya Diuntungkan Sistem Brantas dan Infrastruktur Kota

Dalam konteks banjir di Indonesia, Tjuk Suwarono menilai Surabaya justru sebagai salah satu kota yang paling diuntungkan oleh sistem pengelolaan sungai terbaik di Tanah Air, yaitu Sungai Brantas.

“Sejatinya Surabaya menikmati anugerah Kali Brantas, urat nadi kemakmuran Jawa Timur yang diurus manajemen terbaik di Indonesia,” tulisnya.

Dia menilai, Brantas memiliki karakter arus yang lebih stabil dibanding sungai besar lain seperti Bengawan Solo. Hulu Brantas dikendalikan oleh Waduk Ir. Soetami, sementara di wilayah Tulungagung terdapat Terowongan Neyama yang berfungsi membuang luapan air ke Laut Selatan Jawa.

“Pembagian beban yang rapi ini menjadikan Brantas istimewa. Hampir tak pernah menyengsarakan warga kiri-kanannya,” tulis Tjuk.

Sebelum masuk Surabaya, Brantas membuang sebagian debit air melalui Kali Porong, lalu mengalir sebagai Kali Surabaya menuju Kali Jagir yang menjadi salah satu pintu utama pengendali banjir kota.

“Sepanjang 13 km menuju muaranya di laut, Kali Jagir mewarisi gerbang pintu air klasik peninggalan Belanda dibangun pada 1856,” tulisnya.

Kali Jagir kemudian membagi aliran dengan Sungai Kalimas, yang menjadi tulang punggung sistem pematusan Surabaya. “Sungai Kalimas inilah tulang punggung pematusan, menampung ratusan riol-riol dari berbagai arah dalam kota,” tulis Tjuk.

Lebih lanjut, dia juga menyinggung peran Kali Greges dan Kali Branjangan yang memecah aliran banjir menuju Teluk Lamong.

Selain kekuatan sistem sungai alami, Surabaya juga didukung infrastruktur modern seperti busem kembar Morokrembangan, hampir 150 pompa banjir, puluhan pompa air bergerak, hingga keterlibatan mobil pemadam kebakaran dalam menyedot genangan.

Kemudian, pengelolaan sampah juga disebut menjadi faktor pendukung melalui waste to energy di TPA Benowo, bank sampah lebih dari 400 titik, serta budaya memilah sampah dari rumah.

Jakarta dan Kota Lain: Tantangan Sungai Liar

Tjuk membandingkan Surabaya dengan Jakarta yang dikepung 13 sungai, seperti Ciliwung, Angke, Krukut, Pesanggrahan, Grogol, hingga Sunter, yang mayoritas berhulu di Jawa Barat dan memiliki karakter “liar”.

“Meski Belanda juga mewariskan sistem drainase kota Jakarta yang cukup baik, tetapi manajemen Ciliwung belum sebanding dengan Brantas,” tulisnya.

Dia juga mencatat beberapa kota lain yang relatif berhasil mengendalikan banjir, seperti Banda Aceh dengan perbaikan saluran air dan penghijauan, Denpasar dengan bioswale dan taman hujan, Balikpapan dengan drainase langsung ke laut, hingga Banyumas yang mengandalkan saluran tertutup dan resapan Sungai Serayu.

Namun, menurutnya semua klaim keberhasilan itu tetap harus diuji saat anomali cuaca ekstrem terjadi. “Kita menunggu bukti, apakah kota-kota pilihan ini terhindar dari banjir di saat anomali cuaca sedang menggila saat ini,” imbuhnya.

Tjuk kemudian menegaskan perbedaan mencolok antara Surabaya dan kota-kota lain di Jawa yang kerap dilanda banjir besar.

“Terbukti banjir Jakarta parah, juga Tangerang, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak. Tapi Surabaya woow menikmati manajemen Brantas yang menjaga Kali Surabaya, Kalimas, Kali Jagir, dan hampir 150 pompa dalam kota,” tulis Tjuk Suwarono.(bil/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Minggu, 25 Januari 2026
29o
Kurs