Rabu, 28 Januari 2026

Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo Dikunjungi Delegasi Malaysia, Jadi Model Smart City

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Delegasi Tanjong Malim District Council (MDTM), Perak, Malaysia, melakukan kunjungan ke Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (28/1/2026). Foto: Istimewa.

Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menarik perhatian masyarakat internasional.

Hari ini, Rabu (28/1/2026), kawasan berbasis pengelolaan sampah komunitas ini menerima kunjungan resmi delegasi Tanjong Malim District Council (MDTM), Perak, Malaysia, untuk mempelajari penguatan konsep Smart Environment dalam pembangunan Smart City.

Sebanyak 45 peserta hadir dalam kunjungan tersebut, terdiri atas jajaran pemerintah daerah, anggota dewan, wali kota, hingga kepala dinas lintas sektor. Mereka melakukan studi langsung terhadap pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dinilai sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan.

Kampung Edukasi Sampah berawal dari kebiasaan memilah sampah rumah tangga, lalu berkembang menjadi sistem pengelolaan terpadu di tingkat RT. Delegasi meninjau berbagai fasilitas, mulai dari komposter aerob, metode takakura, sumur resapan, bank sampah, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga pemanfaatan panel surya.

Delegasi Tanjong Malim District Council (MDTM), Perak, Malaysia, melakukan kunjungan ke Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (28/1/2026). Foto: Istimewa.

Selain berfungsi sebagai kawasan pengelolaan lingkungan, KES juga menjadi pusat edukasi terbuka yang menerima lebih dari 4.000 kunjungan setiap tahun dari pelajar, mahasiswa, hingga instansi pemerintah.

Edi Priyanto pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah mengatakan, gerakan tersebut lahir dari keresahan warga terhadap kondisi lingkungan sekitar.

“Awalnya hanya karena melihat sampah menumpuk dan selokan bau. Kami tidak mulai dari teknologi mahal, tetapi dari kesadaran untuk memilah, mengolah, dan tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Edi, kunjungan delegasi Malaysia menjadi bukti bahwa gerakan berbasis warga mampu memberi dampak luas.

“Kami tidak pernah membayangkan gerakan tingkat RT bisa menjadi ruang belajar lintas negara. Perubahan lingkungan tidak harus menunggu kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama,” tambahnya.

Delegasi Tanjong Malim District Council (MDTM), Perak, Malaysia, melakukan kunjungan ke Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (28/1/2026). Foto: Istimewa.

Apresiasi Delegasi Malaysia
Kunjungan delegasi MDTM berlangsung interaktif. Selain mengikuti pemaparan, rombongan berdialog langsung dengan warga dan menyaksikan proses pemilahan serta pengolahan sampah yang dijalankan secara mandiri.

YB Sandrea Ng Shy Ching Ketua Komite Perumahan dan Pemerintahan Daerah Negeri Perak menilai Kampung Edukasi Sampah sebagai contoh nyata perubahan lingkungan yang dimulai dari rumah tangga.

“Yang paling kami kagumi adalah semangat komunitasnya. Perubahan besar ternyata bisa dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat lokal,” katanya.

Dia menambahkan, praktik tersebut relevan dengan agenda pembangunan Smart City 2040 Negeri Perak dan berpotensi direplikasi, sekaligus membuka peluang kolaborasi Indonesia–Malaysia.

Dr. Shazree Idzham Wali Kota Tanjong Malim menyoroti kuatnya kolaborasi antara warga dan aparatur setempat sehingga program berjalan konsisten dan menjadi budaya, bukan kegiatan sesaat.

“Kami melihat ini bukan program sementara, tetapi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Itu yang membuatnya bertahan,” ujarnya.(ham/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Rabu, 28 Januari 2026
25o
Kurs