Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengambil langkah strategis dengan menyatukan dunia akademik dan industri dalam satu ekosistem kolaboratif, seiring dengan pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan disrupsi teknologi yang turut mengubah lanskap industri kreatif.
Wirawan ED Radianto Rektor UC Surabaya mengatakan, perguruan tinggi tidak lagi bisa berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan industri yang sangat cepat, sehingga harus ada kolaborasi dalam upaya melahirkan inovasi berdampak.
“Kreativitas hari ini tidak cukup hanya inovatif, tetapi harus relevan dan berdampak. Kolaborasi konkret dengan industri menjadi kunci agar lulusan mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, termasuk perkembangan AI yang kini memengaruhi proses desain dan produksi kreatif,” katanya, Senin (23/2/2026).
Susan, Dean School of Creative Industry UC Surabaya menambahkan bahwa paradigma pendidikan desain perlu diredefinisi. Selama ini menurutnya, desain kerap dipersepsikan sebagai aspek estetika saja, padahal memiliki peran strategis dalam penciptaan nilai ekonomi.
“Desain tidak boleh berhenti pada keindahan visual. Apa yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki hilirisasi yang jelas punya nilai ekonomi, relevan dengan kebutuhan industri, dan memberikan dampak nyata,” ucapnya.
Menurut Susan, School of Creative Industry harus mendorong terbentuknya ekosistem kolaboratif yang menyatukan industri, akademisi, dan mahasiswa dalam satu ruang kreatif yang produktif. Dalam hap ini, mahasiswa didorong untuk berpikir melampaui seni, dengan pendekatan problem solving, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.
“Kami ingin mahasiswa memiliki mindset terbuka. Ketika mereka mendesain, mereka tidak berhenti pada karya estetik, tetapi mampu menemukan sisi entrepreneurial-nya, memahami potensi ekonominya, serta memastikan desain tersebut berdampak bagi masyarakat dan lingkungan,” tuturnya.
Sebagai upaya untuk mencapai tujuan tersebut, School of Creative Industry (SCI) UC resmi melantik industrial advisory board sebagai mitra strategis pengembangan pendidikan berbasis kebutuhan industri dalam industrial gathering 2026.
Dalam industrial advisory board, terdapat Dewan yang terdiri dari para praktisi dan pemimpin industri kreatif yang akan berperan untu memberikan masukan terhadap pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri, mendorong proyek kolaboratif dan riset terapan, memperluas jejaring kemitraan strategis, dan mengawal implementasi program magang dan inkubasi bisnis kreatif.
Langkah itu, kata dia, menjadi respons konkret UC Surabaya terhadap kebutuhan industri talenta kreatif yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan dinamika pasar global.
Lewat langkah tersebut, pihaknya berkomitmen dalam jangka panjang untuk membangun pendidikan industri kreatif yang adaptif, inovatif, dan terintegrasi dengan kebutuhan industri nasional maupun global.
“Di tengah tantangan transformasi digital, model kolaborasi ini diharapkan menjadi katalis lahirnya talenta kreatif Indonesia yang tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga kuat secara ekonomi dan berdampak luas bagi pembangunan bangsa,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
