Senin, 2 Maret 2026

Pakar HI Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Tak Logis, Duga Pengalihan Isu Kasus Epstein yang Seret Trump

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS). Foto: Bloomberg/ Getty Images

Dua hari terakhir, eskalasi konflik di Timur Tengah sedang dalam puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan brutal terhadap Iran di tengah proses negosiasi nuklir yang masih berjalan di Jenewa, Swiss.

Terkait hal ini, Vincensio Dugis Pakar Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (Unair) menilai bahwa tindakan militer tersebut sangat mengejutkan dan sulit diterima akal sehat, karena tidak didasari oleh alasan atau ancaman yang mendesak.

Menurut Dugis, serangan ini memicu berbagai spekulasi di tingkat global karena dilakukan secara mendadak tanpa adanya justifikasi yang kuat. Ia mencurigai adanya motif politik domestik AS di balik keputusan tersebut, terutama yang berkaitan dengan sosok Donald Trump Presiden.

“Tidak terlihat reason yang clear di balik itu gitu. Karena itu kan kemudian timbul berbagai spekulasi. Contoh misalnya, jangan-jangan ini kalau dari sisi Trump dia kemudian mencoba mengalihkan isu yang selama ini di dalam negeri mulai tinggi terhadap kasus Epstein files itu,” ujar Vincensio Dugis dalam program Wawasan Suara Surabaya, Senin (2/3/2026).

Dugis menambahkan bahwa spekulasi ini menguat karena publik di Washington DC pun mulai menyuarakan kekhawatiran serupa, mengenai dukungan domestik untuk membuka berkas-berkas kasus sensitif tersebut.

Yang paling disayangkan, kata Dugis, serangan militer ini terjadi justru saat proses negosiasi nuklir masih berlangsung. Sehingga sebelum serangan terjadi, dunia internasional tidak pernah mendengar adanya kegagalan resmi dari meja perundingan tersebut.

“Proses negosiasinya itu ya masih berjalan begitu kan. Dan kita tidak pernah mendengar sebelumnya apakah proses itu gagal. Sehingga muncul berbagai spekulasi yang lalu kita jujur saya sendiri tidak begitu melihat apa sih sebetulnya reason yang paling masuk akal untuk memberi justifikasi serangan ini. Sesuatu yang di luar nalar yang logik,” tegasnya.

Dari perspektif hukum internasional, Dugis menilai tindakan militer ini berstatus not justified atau tidak dapat dibenarkan. Hal ini dikarenakan tidak adanya ancaman serius yang terdeteksi dari pihak Iran, yang dapat memicu serangan balasan berskala besar.

Selain aspek hukum, Dugis juga menyoroti waktu serangan yang dianggap sangat tidak sensitif bagi masyarakat muslim dunia yang sedang menjalankan ibadah di Bulan Suci Ramadan.

“Sisi lain adalah betapa Amerika Serikat dan Israel tidak peka. Kalau saya melihat ini kan di bulan Ramadan. Orang lagi berpuasa. Jadi sesuatu yang di luar nalar yang logik untuk melihat aksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ini.”

Sorotan Terhadap Board of Peace (BOP)

Terkait posisi Indonesia yang baru saja bergabung dengan Board of Peace (BOP) bentukan Donald Trump, Dugis menyayangkan langkah pemerintah yang tak mengkalkulasi sebelum bergabung dengan dewan perdamaian tersebut.

“Saya kira kegagalan kita adalah melihat BOP ini. Bagi saya BOP ini adalah sebuah jebakan luar biasa yang dibangun oleh eh Amerika Serikat di bawah Donald Trump untuk banyak negara. Jadi karena itu harusnya kita kalkulasi betul sejak awal karena Iya,” ucapnya.

Dugis mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati. Ia memandang institusi tersebut merupakan instrumen politik AS untuk menaikkan kembali pengaruh mereka yang mulai menurun.

“Apakah kemudian alasan pembentukan BOP benar seperti yang diungkap Trump? Atau itu sebetulnya instrumen Amerika Serikat yang dibangun oleh Donald Trump untuk menaikkan kembali level Amerika Serikat sebagai negara besar yang selama ini sebetulnya sudah mau menurun? Saya cenderung melihat dari sisi-sisi itu,” ucapnya. (bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 2 Maret 2026
24o
Kurs