Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) menyatakan operasi militer negaranya terhadap Iran masih berlangsung dengan kekuatan penuh, dan memperkirakan akan menimbulkan lebih banyak korban jiwa di pihak AS dalam beberapa hari ke depan.
Dalam pesan video berdurasi enam menit yang diunggah di platform Truth Social, Minggu (1/3/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa serangan militer AS belum akan dihentikan hingga seluruh target operasi tercapai.
“Operasi tempur saat ini terus berlangsung dengan kekuatan penuh, dan akan terus berlanjut sampai semua tujuan kami tercapai. Kami memiliki tujuan yang sangat kuat,” kata Trump seperti dikutip Xinhua, Senin (2/3/2026).

Ia juga mengakui kemungkinan bertambahnya korban dari pihak militer AS selama operasi berlangsung.
“Sayangnya kemungkinan akan ada lebih banyak korban sebelum ini berakhir,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari operasi militer yang sedang berjalan.
Trump kembali menyerukan kepada anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menyerahkan senjata mereka dengan imbalan “imunitas penuh”.
Sementara itu, Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada pemimpin negara mana pun yang berhak melarang Iran melakukan respons terhadap serangan besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel.
Menurut Araghchi, Iran memiliki hak penuh untuk membela diri dan kemampuan militer negaranya dinilai cukup kuat untuk mempertahankan kedaulatan nasional.
Serangan udara skala besar oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran dimulai pada, Sabtu (28/2/2026) pagi. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
