Selasa, 3 Maret 2026

Biaya Logistik Global Bisa Naik 30 Persen Akibat Penutupan Selat Hormuz

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi peta Selat Hormuz. Foto: India Today

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengamati situasi penutupan Selat Hormuz dapat menyebabkan kenaikan biaya logistik global hingga 30 persen. Hal ini mengingat selat tersebut notabene merupakan pintu energi paling krusial di dunia.

“Kalau konflik berkepanjangan, biaya logistik global bisa mengalami kenaikan signifikan secara kumulatif, kemungkinan lebih dari 30 persen total biaya dibandingkan periode sebelum konflik, tergantung durasi, rute pengalihan dan harga energi,” ucap Trismawan Sanjaya Sekretaris Jenderal ALFI, Selasa (3/3/2026), yang dikutip Antara.

Trismawan mengungkapkan faktor-faktor yang berpengaruh pada kemungkinan kenaikan biaya logistik global tersebut. Pertama, harga minyak dunia yang telah meningkat cukup masif, sekitar 8 hingga 13 persen setelah konflik akhir-akhir ini.

Eskalasi konflik tersebut juga membuat banyak jalur pelayaran utama, termasuk Selat Hormuz, sangat berisiko untuk ditutup. Oleh karenanya kapal-kapal harus mencari rute lain seperti Cape of Good Hope.

Langkah tersebut membuat waktu transit kapal bertambah kurang lebih 15-20 hari dan menyebabkan biaya operasional kapal ikut naik. “Selain itu, biaya asuransi kargo dan war risk surcharge meningkat tajam, dengan beberapa analis memperkirakan freight,” kata Trismawan.

Untuk diketahui, Sabtu (28/2/2026) lalu, media Iran melaporkan penutupan Selat Hormuz “secara efektif” imbas serangan AS-Israel, meski pengumuman resmi belum diberikan.

Sebagai informasi sebanyak seperlima perdagangan minyak dunia ditangani oleh Selat Hormuz, serta volume besar ekspor gas alam cari dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi wilayah tersebut.

Data pelayaran pada 1 Maret menunjukkan volume transit yang turun sebesar 86 persen dibanding rata-rata tahun 2026. United Kingdom Maritime Trade Operations menyampaikan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu (1/3/2026).

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab merupakan dua negara pemilik jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz, tetapi kapasitas pipa tersebut hanya mencakup sedikit dari volume minyak mentah yang biasanya dikirim dari jalur awal. (ant/vve/bil/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 3 Maret 2026
24o
Kurs