Sejumlah negara Asia mulai merasakan dampak ekonomi dari eskalasi serangan udara Amerika Serikat, Israel, kepada Iran. Puluhan kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di sekitar Strait of Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Melansir laporan Anadolu, Selasa (3/3/2026), beberapa operator pelayaran telah menangguhkan transit melalui selat tersebut akibat lonjakan biaya asuransi serta meningkatnya risiko keamanan.
Sementara pemerintah China pada, Senin (2/3/2026), menyebut Selat Hormuz sebagai “jalur perdagangan internasional yang penting” dan mendesak penghentian segera operasi militer di kawasan tersebut.
Mao Ning Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menegaskan stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat krusial bagi perdagangan global serta meminta langkah konkret untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sebelumnya, Media Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu melaporkan bahwa Selat Hormuz “secara efektif” telah ditutup menyusul serangan AS dan Israel. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai blokade penuh.
Jepang, Malaysia, dan Pakistan Siaga
Dampak gangguan di Selat Hormuz langsung terasa di Jepang. Lebih dari 40 kapal yang terafiliasi dengan Jepang, termasuk tanker minyak, dilaporkan tertahan di Teluk Persia, menurut Kyodo News. Setidaknya tiga kapal menghentikan upaya melintasi selat tersebut.
Jepang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah, dan sebagian besar pasokan itu melewati jalur sempit tersebut.
Toshimitsu Motegi Menteri Luar Negeri Jepang, pada Senin meminta Duta Besar Iran untuk Tokyo memastikan keselamatan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Jepang, Tokyo menegaskan akan terus melakukan segala upaya diplomatik guna mendorong penyelesaian situasi secepat mungkin.
Malaysia juga mengambil langkah antisipatif. Departemen Kelautan Malaysia mengimbau kapal-kapal berbendera Malaysia untuk menghindari Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Operator pelayaran diminta memantau ketat peringatan keamanan internasional serta meningkatkan kesiapsiagaan operasional.
Sementara itu, Pakistan mulai menyiapkan rencana darurat. Pejabat setempat menyebut Islamabad kemungkinan akan mengupayakan masuk dalam daftar prioritas pasokan minyak mentah Arab Saudi melalui rute Laut Merah jika gangguan berlangsung lebih dari 10–12 hari.
Dua tanker minyak mentah milik perusahaan pelayaran negara, Pakistan National Shipping Corporation, masih tertahan di dekat Selat Hormuz. Kapal ketiga yang mulai memuat kargo saat konflik meningkat diperkirakan belum dapat berlayar dalam waktu dekat.
20 Persen Pasokan Minyak Dunia Lewat Selat Hormuz
Selat Hormuz sendiri menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan volume besar ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar serta Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global—atau sekitar 20 juta barel per hari—melewati koridor ini.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026. United Kingdom Maritime Trade Operations juga melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu.
Saat ini, hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Namun kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil dari total volume minyak yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut.
Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu stabilitas ekonomi global, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. (bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
