Senin, 9 Maret 2026

Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak 20 Persen, Tertinggi Sejak Tahun 2022

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Harga minyak mentah dunia naik. Foto: Anadolu

Harga minyak mentah dunia meroket sebesar 20 persen pada, Senin (9/2/2026), bersamaan dengan meluasnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Lonjakan harga minyak ini mencapai level tertingginya sejak bulan Juli 2022.

Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak Brent mengalami kenaikan tertinggi sebesar 18,35 dolar AS atau 19,8 persen, menjadi 111,04 dolar AS per barel pada sesi perdagangan tersebut. Sedangkan per Senin pukul 00.14 GMT, harga minyak berada pada 107,93 dolar AS, naik sebesar 15,24 dolar AS atau 16,4 persen.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sebanyak 16,50 dolar AS atau 18,2 persen, menjadi 107,40 dolar AS per barel. Sebelumnya harga WTI AS naik hingga 20,34 dolar AS atau sebesar 22,4 persen, menjadi 111,24 dolar AS pada awal sesi.

Pekan lalu, harga Brent telah naik sebesar 27 persen dan harga WTI telah naik sebesar 35,6 persen. Hal tersebut menyebabkan pemotongan suplai di beberapa produsen minyak di Timur Tengah, serta adanya kekhawatiran akan gangguan dalam jangka panjang akibat penutupan Selat Hormuz.

Negara-negara seperti Irak dan Kuwait mulai memotong produksi minyaknya, menambah pengurangan gas alam cair dari yang sebelumnya dari Qatar.

Seorang analis memprediksi bahwa Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga akan memotong suplai minyak mereka dalam waktu dekat saat cadangan penyimpanan minyak mereka menipis.

Produksi minyak Irak saat ini telah turun 70 persen, menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Irak tidak dapat mengekspor minyaknya melalui Selat Hormuz akibat perang.

Basra Oil Company di Irak yang dikelola oleh negara mengatakan penyimpanan mentah telah mencapai kapasitas maksimum.

Korporasi Minyak Kuwait telah melakukan pengurangan produksi pada Sabtu (7/3/2026) lalu, sekaligus menyatakan force majeure untuk pengiriman minyak. Mereka tidak menyebutkan berapa banyak produksi yang dihentikan.

Kenaikan harga bahan bakar juga dapat diekspektasikan terjadi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, meskipun jika perang telah berakhir dengan cepat.

Pemasok minyak masih harus menghadapi fasilitas yang rusak, logistik terganggu, serta risiko pengiriman yang masih tinggi.

“Saya pikir harga telah naik pagi ini karena laporan bahwa produsen di Timur Tengah kini mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan minyak cepat terisi penuh,” ucap Daniel Hynes, analis komoditas senior di ANZ.

Ia menjelaskan dampak jangka panjang berikutnya dari pemotongan suplai minyak pada kenaikan harga minyak.

“Tanda berikutnya adalah apakah akhirnya mereka harus mulai menutup sumur minyak, yang tidak hanya berdampak pada produksi lebih lanjut, tetapi juga menunda respons setelah konflik mereda. Hal itu berpotensi mempertahankan harga tersebut untuk waktu yang lebih lama,” terangnya.

Kenaikan harga minyak mentah di tingkat global ini juga memicu pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (vve/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 9 Maret 2026
32o
Kurs