Kamis, 11 Juni 2026

IHSG Berpotensi Tidak Stabil Bersamaan Meningkatnya Tensi di Timur Tengah

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Seseorang mengamati grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar di Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak tidak stabil seiring peningkatan tensi di kawasan Timur Tengah, pada Kamis (11/6/2026) pagi.

Pagi ini, IHSG dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.899,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,83 poin atau 0,14 persen ke posisi 590,31.

“Sentimen pasar tetap didominasi perkembangan di Timur Tengah, setelah CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald ​​​​​​ Trump,” ujar Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas, melansir Antara.

Dari mancanegara, Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan “membayar harga”, apabila terus menunda kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan akan membalas setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.

Konflik yang memasuki bulan keempat, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Ketidakpastian tetap tinggi karena Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia masih menjadi titik utama risiko energi global.

Selain itu, Trump mengklaim AS telah menjalankan “misi rahasia” untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global.

Namun demikian, klaim tersebut dibantah oleh Chris Wright Menteri Energi AS, yang mengaku tidak mengetahui operasi tersebut.

Dari kebijakan moneter, Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuannya dan pasar terus mencermati kenaikan harga energi akibat perang Iran akan memaksa The Fed, Europan Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) akan mempertahankan kebijakan moneter lebih ketat lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.

Menurut CME FedWatch, pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, yang akan menjadi FOMC pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh.

Namun, probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps hingga akhir tahun meningkat ke sekitar 43 persen.

Yield US Treasury 10Y naik ke 4,55 persen, sementara yield 30Y kembali menembus 5 persen.

Dari dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme masyarakat terhadap perekonomian tetap kuat pada Mei 2026, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertahan di level tinggi 120,9, didukung oleh ekspektasi ekonomi ke depan yang tetap solid (IEK 129,7).

Meski demikian, persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini mulai melemah, tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang turun ke 112,2 pada Mei 2026, dari sebelumnya 116,5 pada April 2025, mengindikasikan konsumen masih optimistis terhadap masa depan namun mulai lebih berhati-hati terhadap kondisi saat ini.

Sementara itu, posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia membaik pada kuartal I 2026, dengan kewajiban neto turun signifikan menjadi 227,6 miliar dolar AS, dari sebelumnya 273,4 miliar dolar AS pada kuartal IV 2025, terutama karena penurunan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dibanding penurunan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Perbaikan itu menurunkan rasio kewajiban neto PII terhadap PDB menjadi 15,5 persen dari 18,9 persen, sementara investasi langsung tetap mencatat surplus dan struktur kewajiban luar negeri tetap sehat karena 92,5 persen didominasi instrumen jangka panjang.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati data retail sales April 2026, untuk menentukan apakah daya beli masyarakat (khususnya middle class income) masih bisa diandalkan sebagai komponen penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026) kemarin, bursa saham Eropa variatif, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,62 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,27 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,97 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,51 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak melemah pada Rabu (10/6/2026), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,87 persen, indeks S&P 500 melemah 1,62 persen, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,98 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 0,86 persen ke 63.643,00, indeks Shanghai melemah 0,64 persen ke 3.969,31, indeks Hang Seng melemah 1,12 persen ke 24.118,00, dan indeks Strait Times melemah 0,19 persen ke 4.948,78.(ant/kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Kamis, 11 Juni 2026
32o
Kurs