Harga minyak dunia turun lebih dari enam persen pada perdagangan Selasa (10/3/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Penurunan terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 6,51 dolar AS atau sekitar 6,6 persen menjadi 92,45 dolar AS per barel pada pukul 00.18 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 6,12 dolar AS atau sekitar 6,5 persen menjadi 88,65 dolar AS per barel.
Tekanan terhadap harga muncul setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat memprediksi konflik di kawasan Timur Tengah akan mengalami deeskalasi. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan.
Sebelumnya, pada Senin (9/3/2026), harga minyak sempat melonjak hingga sekitar 118 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 17 Juni 2022. Lonjakan itu dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama jika Iran merealisasikan ancaman penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.
Sentimen pasar mulai mereda setelah Vladimir Putin Presiden Rusia melakukan dialog dengan Trump dan menyampaikan sejumlah usulan untuk mempercepat penyelesaian konflik. Komunikasi tersebut dinilai membantu menenangkan pasar yang sebelumnya khawatir terhadap gangguan pasokan energi global dalam jangka panjang.
Trump bahkan menyatakan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran diperkirakan segera berakhir. Ia sebelumnya memprediksi perang tersebut dapat berlangsung selama empat hingga lima pekan.
Meski demikian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespons dengan menegaskan bahwa pihaknya yang akan menentukan kapan konflik berakhir. IRGC juga menyatakan Teheran tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlangsung.
Di sisi lain, pasar menilai ancaman tersebut belum cukup kuat untuk kembali mendorong harga minyak naik tajam. Harga energi juga tertahan oleh rencana pemerintah Amerika Serikat yang mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia serta kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat guna menambah pasokan global.
Tony Sycamore analis pasar IG memperkirakan harga minyak mentah dalam waktu dekat akan bergerak fluktuatif dalam kisaran cukup lebar, yakni antara 75 hingga 105 dolar AS per barel. Rentang tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Sementara itu, beberapa produsen minyak di kawasan Teluk mulai mengurangi produksi karena konflik turut mengganggu aktivitas pengiriman. Irak dilaporkan memangkas produksi di ladang minyak utama di wilayah selatan hingga sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari. Kuwait Petroleum Corporation juga mulai menurunkan produksi dan menyatakan kondisi force majeure, sementara Arab Saudi disebut ikut melakukan penyesuaian produksi.
Negara-negara anggota G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons lonjakan harga minyak global. Namun hingga kini mereka masih menahan diri untuk menggunakan cadangan minyak strategis. (mar/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
