Rabu, 1 April 2026

Stunting Masih Jadi Ancaman, Wamen PPPA Dorong Integrasi Layanan Anak Usia Dini

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Veronica Tan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Wamen PPPA). Foto: Istimewa

Veronica Tan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Wamen PPPA) menyebut stunting dan sistem yang terfragmentasi masih jadi ancaman nyata.

Dalam acara Executive Roundtable: Catalyzing an ECED Collaborative for Indonesia yang digelar oleh Tanoto Foundation, pada Selasa (31/3/2026), Veronica mengatakan bahwa masa awal kehidupan merupakan fase krusial, karena hingga 90 persen perkembangan otak anak terjadi sebelum usia lima tahun.

“Namun demikian, masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia seperti stunting, keterbatasan akses layanan pendidikan, serta lemahnya lingkungan pengasuhan. Selain itu, sistem yang masih terfragmentasi masih menjadi hambatan dalam menghadirkan layanan yang optimal bagi anak,” kata Wamen PPPA dalam keterangannya yang diterima suarasurabaya.net, Rabu (1/4/2026).

Adapun dalam kegiatan itu, dipaparkan bahwa saat ini Indonesia memiliki sekitar 31 juta anak usia dini yang menjadi penentu utama masa depan bangsa. Namun, tantangan besar masih dihadapi membuat banyak anak masuk sekolah tanpa kesiapan kognitif dan sosial yang memadai.

Untuk mengatasi hal itu, Veronica menekankan pentingnya pendekatan ekosistem dalam perkembangan anak usia dini sebagai fondasi strategis pembangunan Indonesia.

“Upaya peningkatan kualitas anak tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi lintas sektor, mulai dari pengasuhan, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan. Jika kita serius membangun masa depan Indonesia, maka kita harus serius berinvestasi pada fase awal kehidupan anak,” ujarnya.

Menurutnya, anak-anak harus tumbuh dalam satu ekosistem yang saling terhubung, sehingga dibutuhkan integrasi kebijakan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

“Anak tumbuh dalam ekosistem yang mencakup keluarga, komunitas, dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Dalam ekosistem ini, terdapat lima pilar utama dalam tumbuh kembang anak, yakni hak sipil, pengasuhan, kesehatan dan gizi, pendidikan, serta perlindungan. Kelima pilar tersebut harus diperkuat secara bersamaan agar perkembangan anak dapat optimal. Ketika satu pilar lemah, maka seluruh perkembangan anak ikut terdampak,” tutur Veronica.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran ekonomi pengasuhan (care economy) dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Wamen PPPA menilai, beban pengasuhan yang selama ini banyak ditanggung perempuan sering kali tidak terlihat dan kurang mendapat dukungan. Padahal, kondisi ekonomi dan keamanan perempuan sangat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak.

“Saya mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga filantropi, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pengembangan anak. Masa depan anak Indonesia hanya dapat diwujudkan melalui aksi bersama yang terintegrasi, dengan fokus pada penguatan pengasuhan, gizi, ketahanan keluarga, dan lingkungan yang aman,” pungkas Wamen PPPA.(ily/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Rabu, 1 April 2026
33o
Kurs