Senin, 20 April 2026

Kerugian Minyak Selama 50 Hari Konflik Timur Tengah Mencapai 50 Miliar Dolar AS

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Selat Hormuz adalah jalur laut paling vital bagi energi global, di mana sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah dunia melintas setiap hari. Foto: Reuters

Dunia kehilangan pasokan minyak mentah ditaksir senilai lebih dari 50 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp857 triliun yang belum diproduksi, sejak konflik antara AS-Israel dengan Iran pecah di Timur Tengah dan sudah berlangsung hampir 50 hari.

Melansir Reuters, Senin (20/4/2026), para analis menilai dampak krisis tersebut dapat berlanjut dan akan terasa hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kedepan.

Data Kpler mencatat bahwa lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari pasar global sejak konflik dimukai pada 28 Februari, dinilai sebagai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.

Adapun jumlah yang hilang dari pasar setara dengan:

  • Berkurangnya permintaan penerbangan global selama 10 minggu, tidak ada perjalanan darat oleh kendaraan apa pun di seluruh dunia selama 11 hari, atau tidak ada pasokan minyak untuk ekonomi global selama lima hari.
  • Hampir satu bulan permintaan minyak di AS, atau lebih dari satu bulan pasokan minyak untuk seluruh Eropa.
  • Sekitar enam tahun konsumsi bahan bakar militer AS, berdasarkan penggunaan tahunan 80 juta barel pada tahun fiskal 2021.
  • Pengoperasian industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.

Fakta utamanya:

  • Negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret, hampir sama dengan produksi gabungan Exxon Mobil (XOM.N) dan Chevron (CVX.N), yang merupakan dua perusahaan minyak terbesar di dunia.
  • Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman turun dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan Aptil.
  • Harga minyak mentah yang berada di rata-rata 100 dolar AS per barel sejak konflik, volume yang hilang mewakili sekitar 50 miliar dolar AS pendapatan yang hilang.

Pemulihan dalam produksi dan aliran minyak diprediksi akan berlangsung lama dan memerlukan waktu bertahun-tahun.

Kpler mencatat penurunan stok minyak mentah darat global sebesar 45 juta barel sejauh ini pada April, sementara ganggian produksi mencapai 12 juta barel per hari sejak akhir Maret.

Ladang minyak mentah dengan viskositas tinggi di Kuwait dan Iran berkemungkinan membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali ke tingkat operasional normal. Sedangkan kerusakan kapasitas penyulingan dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar berpotensi membutuhkan waktu bertahun-tahun. (vve/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Senin, 20 April 2026
32o
Kurs