Pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi mencatat pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS.
Muhammad Amru Syifa Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengungkapkan pelemahan nilai tukar tersebut imbas dari ketegangan antara AS dengan Iran yang menyebabkan lonjakan harga energi.
“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Harga minyak mentah milik perusahaan Brent berada di sekitar 98,50 dolar AS per barel, sementara harga di AS West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi sekitar 89,60 dolar AS per barel per Selasa (22/4/2026).
Harga gas alam Eropa juga mengalami kenaikan sebesar 8,2 persen dengan kontrak berjangka meningkat ke 51,3 dolar AS per megawatt-jam karena pasar menghitung risiko yang lebih rendah terhadap gangguan pasokan yang lebih jauh.
Pandangan lain juga berasal dari suku bunga tinggi akan diprediksi pasar akan bertahan lebih lama oleh Federal Reserve sehingga mendorong penguatan dolar AS dan mendoronga rus keluar modal dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Dari sisi dalam negeri, Amru berpendapat bahwa Bank Indonesia sedang berfokus pada stabilitas nilai tukar dengan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen.
Namun keterbatasan ruang kebijakan akibat inflasi yang mendekati batas atrget serta harga energi yang bergejolak menimbulkan respons hati-hati dari pasar.
Menanggapi hal itu, BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Perry Warjiyo Gubernur BI menyatakan kebijakan tersebut guna mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
“Pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan hari ini juga mencerminkan reaksi pasar domestik terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya, dimana permintaan dolar AS sudah meningkat,” ujar Amru.
Kondisi likuiditas yang relatif lebih tipis pada awal perdagangan memicu tekanan sehingga rupiah semakin melemah secara signifikan.
Selain itu, kegiatan jual-beli dolar oleh pelaku pasar domestik serta potensi arus keluar modal juga menguatkan tekanan di awal sesi.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah mencerminkan gabungan dari penguatan dolar AS, eskalasi risiko global, serta keterbatasan ruang kebijakan domestik.
Langkah penguatan stabilisasi oleh BI melalui intervensi valas dan kebijakan DNDF dinilai masih menimbulkan tekanan jangka pendek yang cukup besar.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” tutur Amru.(ant/vve/wld/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
