Pentagon membantah laporan yang menyebut Selat Hormuz berpotensi ditutup hingga enam bulan. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menegaskan skenario tersebut tidak realistis dan tidak dapat diterima.
Sebelumnya, media The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon sempat menyampaikan estimasi tersebut dalam pengarahan tertutup kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS. Laporan itu mengutip tiga pejabat yang mengetahui jalannya diskusi.
Namun, Sean Parnell Kepala Juru Bicara Pentagon menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya akurat.
“Media memilih-milih informasi bocoran, yang sebagian besar tidak benar, dari pengarahan tertutup dan rahasia adalah jurnalisme yang tidak jujur,” ujarnya seperti dikutip laporan kantor berita Prancis, France24, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan bahwa penilaian tersebut tidak mencerminkan kondisi yang mungkin terjadi di lapangan.
“Satu penilaian tidak berarti penilaian itu masuk akal, dan penutupan Selat Hormuz selama enam bulan adalah hal yang mustahil dan sama sekali tidak dapat diterima oleh Menteri,” katanya.
Di tengah polemik tersebut, ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih tinggi. Iran sebelumnya menyatakan tidak akan membuka jalur pelayaran itu selama AS masih memblokade pelabuhannya. Situasi ini telah memicu lonjakan harga minyak dan gas serta mengganggu stabilitas ekonomi global.
Laporan juga menyebut Iran diduga telah menempatkan sedikitnya 20 ranjau laut di sekitar Selat Hormuz, sebagian di antaranya menggunakan teknologi GPS yang sulit dideteksi. Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan memperingatkan adanya “zona bahaya” seluas sekitar 1.400 kilometer persegi di kawasan tersebut.
Kekhawatiran terhadap ancaman ranjau membuat sejumlah perusahaan pelayaran masih berhati-hati untuk kembali melintasi jalur strategis tersebut.
Upaya internasional untuk menjaga keamanan pelayaran juga terus dilakukan. Pertemuan para perencana militer dari lebih dari 30 negara digelar di London guna membahas pembentukan misi multinasional yang dipimpin Inggris dan Prancis untuk mengamankan jalur tersebut serta melakukan pembersihan ranjau.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap ekonomi global. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
