Pieter Pandie Peneliti Departemen Hubungan Internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengingatkan Selat Malaka yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, berpotensi menjadi titik konflik global.
Ia menyebut Selat Malaka merupakan jalur vital yang menopang aktivitas ekonomi global, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
“Selat Malaka itu salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk perdagangan dan energi. Ini menyambungkan Samudra Hindia dengan Pasifik, jadi sangat strategis,” ujarnya saat mengudara di Wawasan Radio Suara Surabaya, Selasa (28/4/2026).
Tingginya ketergantungan negara-negara besar terhadap jalur ini, menurut Pieter, membuat Selat Malaka memiliki nilai strategis sekaligus kerentanan. Ia mencatat, sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan energi dunia melintasi kawasan tersebut, termasuk kebutuhan negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat.
“Untuk banyak negara besar seperti Jepang, Tiongkok, dan Amerika Serikat, Selat Malaka adalah salah satu jalur pelayaran terpenting yang menghubungkan perairan Hindia ke Pasifik,” katanya.
Dalam konteks geopolitik, kondisi itu, katanya berpeluang munculnya konflik, terutama jika ketegangan antarnegara besar meningkat di kawasan lain.
“Ke depan tidak menutup kemungkinan kawasan ini bisa menjadi titik konflik karena sangat strategis untuk perdagangan dan perlintasan kapal, termasuk kapal perang,” ucapnya.
Meski saat ini jalur tersebut masih bebas dilalui kapal dari berbagai negara, Pieter menilai Indonesia tidak boleh lengah. Sebagai negara yang berada di kawasan strategis, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan Selat Malaka.
Ia menekankan pentingnya penguatan kesiapan nasional, baik dari sisi militer maupun diplomasi. Investasi pada pengawasan perairan serta kerja sama regional, khususnya melalui ASEAN, dinilai menjadi langkah kunci untuk mencegah konflik.
“Perlu ada investasi pada jalur militer untuk meningkatkan awareness di perairan, tidak hanya di Selat Malaka. Selain itu, strategi diplomasi di ASEAN juga penting untuk memastikan konflik tidak terjadi,” ujarnya.
Selain itu, Pieter juga mengingatkan agar Indonesia tetap konsisten berpegang pada hukum internasional dalam mengelola wilayah strategis tersebut. Konsistensi ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia di mata dunia sekaligus memperkuat posisi dalam berbagai isu maritim.
“Indonesia harus tetap merujuk pada hukum internasional sebagai pegangan. Itu juga menjadi sinyal positif bagi negara-negara lain,” tegasnya.
Meski kekhawatiran terhadap konflik global meningkat, ia menilai hingga saat ini belum ada indikasi kuat menuju konflik besar yang melibatkan banyak negara sekaligus. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pentingnya Selat Malaka dalam peta perdagangan dunia.
“Indonesia tidak boleh terlalu nyaman. Potensi konflik di kawasan itu selalu ada, jadi tetap perlu antisipasi,” tutupnya. (lta/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
