Minggu, 3 Mei 2026

Sistem Double Double Track Bisa Jadi Solusi Cegah Terulangnya Kecelakaan KRL dengan KAJJ

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Petugas berupaya mengevakuasi penumpang yang terjebak di dalam gerbong KRL Commuter Line yang tertabrak KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Antara

Riza Primadi Eks Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menilai, sistem Double Double Track (DDT) dapat menjadi solusi utama pencegahan kecelakaan kereta seperti insiden di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026).

Menurutnya, jalur KRL dengan jalur kereta api jarak jauh (KAJJ) yang dipisah menjadi langkah vital dalam pencegahan potensi tabrakan, karena selama ini risiko muncul imbas dua jenis kereta yang berbeda berada di jalur yang sama.

“Untuk serudukan antara kereta api jarak jauh vs KRL saya 100 persen yakin tidak akan terjadi (terulang), kan jalurnya beda. Jadi, enggak bakal sejalur,” ujar Riza, Minggu (3/5/2026) yang dikutip Antara.

Dia bilang, KRL lebih sering berhenti di banyak stasiun, sedangkan KAJJ hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu. Oleh karena itu, KAJJ cenderung melaju dengan kecepatan tinggi.

Kondisi itu membuat KAJJ berpotensi besar untuk mengejar atau “mengekor” KRL. Sementara, hal tersebut dapat teratasi bila jalur dari dua jenis kereta tersebut dibedakan.

Riza melanjutkan, pembangunan DDT dari Manggarai hingga Cikarang sudah memasuki tahap perancangan. Tapi, implementasinya belum sepenuhnya selesai.

Dia menegaskan, selama KAJJ dan KRL masih berbagi jalur, potensi gangguan dan risiko perjalanan masih dapat terjadi terlebih pada lintas berkepadatan tinggi.

“Saya mendorong percepatan penyelesaian proyek DDT sebagai solusi permanen untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di wilayah padat seperti Bekasi dan sekitarnya,” tegasnya.

Senada, Ki Darmaningtyas Pengamat transportasi menyebut keberadaan DDT sangat krusial dalam menjamin keselamatan perjalanan kereta api terutama di jalur padat.

“Kalau soal urgensinya ya tentu urgen, masing-masing itu harus punya jalur,” ucapnya.

Darmaningtyas juga menyebut, penyediaan jalur terpisah menjadi langkah jangka panjang dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan kereta api.(ant/vve/bil/rid)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Minggu, 3 Mei 2026
32o
Kurs