Rabu, 6 Mei 2026

Bank Indonesia Klaim Jaga Likuiditas Perbankan dan Batasi Pembelian Dolar AS

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia saat memberikan paparan ke awak media di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026). Foto Biro Komunikasi Setpres

Bank Indonesia (BI) menegaskan telah menjaga likuiditas perbankan dan stabilitas pasar keuangan di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.

Perry Warjiyo Gubernur BI menyampaikan bahwa kondisi likuiditas domestik saat ini berada pada level yang memadai, tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tetap berada pada level dua digit.

“Kami juga menjaga likuiditas di perbankan dan pasar lebih dari cukup. Yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu dobel digit. Di terakhir itu pertumbuhan uang primernya adalah 14,1 persen,” kata Perry di Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Selain itu, BI juga membatasi pembelian dolar di pasar domestik, dari awalnya 100.000 dolar AS per orang per bulan menjadi 50.000 dolar AS per orang perbulan.

“Yaitu adalah yang kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underline. Yang dulunya 100.000 dolar per orang perbulan kita turunkan 50.000 dolar per orang perbulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan perdagangan,” katanya.

Langkah ini diambil untuk menguatkan pasar modal di Indonesia. Langkah-langkah ini juga sudah dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.

“Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar yuan, Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri. Karena local currency kita dengan Cina sama yuan. Cina sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik yuan sama rupiah. Sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar. Sehingga itu bisa memperkuat,” ujarnya.

Selain itu bank-bank domesti juga diperbolehkan berjualan Offshore Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri. Ini dianggap penting untuk meningkatkan nilai tukar rupiah.

“Penguatan untuk pasar interaksi kami di Offshore Non-Deliverable Forward. Supaya kita lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di offshore di luar negeri. Sehingga pasokannya lebih lebih banyak sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Selama pemerintah berusaha menguatkan nilai tukar rupiah dan pasar modal dalam negeri, sisi pengawasan juga akan ditingkatkan. Katanya Otoritas Jasa Keuangan akan memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Pada Rabu pagi (6/6/2026), nilai tukar rupiah menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.390 dolar AS.

Padahal belakangan rupiah terus melemah, di mana pemerintah melihat trend tersebut terjadi karena meningkatnya permintaan dolar AS, terutama pada periode tertentu seperti musim ibadah haji 2026.

“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” ujar Airlangga.

Ia menambahkan, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan nilai tukar rupiah, termasuk mencermati kondisi global yang turut memengaruhi arus valuta asing.

“Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen. Jadi, demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor sebagaimana dengan negara-negara lain,” katanya. (lea/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 6 Mei 2026
33o
Kurs