Yusuf Karim Ungsi Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jatim menyebut, penyelenggaraan event menunjukkan tren penurunan yang drastis sejak efisiensi yang dilakukan Pemerintah mulai awal 2025.
Sinyal penurunan itu terlihat dari penundaan event, pembatalan, bahkan pengurangan. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah anggapan yang keliru kalau event menghabiskan uang.
“Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh teman-teman di Backstager (sebuah organisasi event) itu bisa dalam satu Rupiah yang dikeluarkan itu menghasilkan 2,5 kali lipatnya,” ujarnya membantah stigma event menghamburkan uang, dikutip Rabu (6/5/2026).
Padahal, lanjut Yusuf, penyelenggaraan event tidak hanya berdampak pada pelaku industri, tapi juga masyarakat luas.
“Mulai dari perhotelan, restoran, kemudian ada UMKM, kemudian banyak sekali bidang-bidang transportasi ini terdampak langsung dalam sebuah event menggerakkan ekonominya itu langsung dan multiplier efeknya bisa langsung dirasakan bahkan sampai petani, sampai nelayan karena konsumsi juga kan,” ungkapnya.
Selain event kolaborasi dengan Pemerintah, kerja sama dengan badan usaha milik pemerintah pusat maupun daerah, bahkan sektor swasta juga ikut berkurang.
2025 lalu sudah menurun 30 persen dibandingkan 2024. Sementara tahun ini semakin anjlok, baru di kuartal I sudah turun 60 persen dari 2025 lalu.
Dia khawatir jika kondisi ini berlanjut, akan ada evaluasi yang berdampak pada pengurangan jumlah pekerja ekonomi kreatif.
Yusuf berharap, pemerintah daerah membuat tim melibatkan stakeholder untuk menilai dampak positif dari kegiatan ekonomi kreatif.
Kemudian, kegiatan yang membawa pergerakan positif ekonomi tetap dilanjutkan Pemerintah.(lta/rid)
NOW ON AIR SSFM 100

