Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menegaskan Amerika Serikat (AS) tetap berkewajiban memberikan visa kepada tim nasional sepak bola Iran, untuk berlaga di Piala Dunia 2026, meski hubungan kedua negara tengah memanas.
Esmaeil Baghaei Juru Bicara (Jubir) Kemlu Iran mengatakan, sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, AS memiliki kewajiban yang jelas untuk memfasilitasi seluruh peserta, termasuk Iran.
“Kami melakukan segala upaya agar tidak ada masalah bagi tim nasional Iran selama mengikuti Piala Dunia di Amerika Serikat,” kata Baghaei usai laga internal timnas Iran, yang dikutip kantor berita Anadolu, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, para pemain Iran datang ke AS murni untuk kepentingan olahraga, bukan urusan politik. “Pemain kami akan pergi ke Amerika Serikat semata-mata untuk Piala Dunia,” ujarnya.
Baghaei menegaskan, negara tuan rumah Piala Dunia wajib menerbitkan visa kepada anggota tim nasional tanpa mempertimbangkan persoalan politik.
“Negara tuan rumah memiliki komitmen yang jelas dan spesifik yang wajib dipenuhi. Visa harus diberikan kepada anggota tim Iran tanpa mempertimbangkan isu politik,” tegasnya.
Ia juga berharap FIFA mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga kredibilitas turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut. Baghaei menilai situasi yang berkembang belakangan terkait tim nasional Iran “tidak pantas bagi FIFA”.
Selain itu, Iran menyatakan siap menggunakan seluruh jalur diplomatik yang tersedia guna memastikan partisipasi timnas mereka berjalan lancar.
Meski Iran dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, Baghaei memastikan Kantor Perwakilan Kepentingan Iran di Washington siap memberikan bantuan yang diperlukan.
Saat ditanya soal negosiasi politik dengan AS, Baghaei memilih tidak memberikan komentar lebih jauh. “Untuk saat ini kami fokus pada olahraga,” katanya.
Sebagai informasi, Piala Dunia 2026 akan digelar bersama di AS, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Iran sendiri dijadwalkan memainkan dua laga fase grup di Los Angeles melawan Selandia Baru pada 15 Juni, dan Belgia pada 21 Juni, sebelum menghadapi Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Sementara ketegangan kawasan Timur Tengah masih meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut memicu balasan dari Teheran serta gangguan di Selat Hormuz.
Gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. Donald Trump Presiden AS kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu baru. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

