Jumat, 8 Mei 2026

Tingkatkan Layanan Disabilitas, UC Surabaya Bangun Sistem Pembelajaran Inklusif Berbasis Data

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
UC Surabaya menerapkan sistem pembelajaram inklusif berbasis sistem dan data untuk meningkatkan layanan mahasiswa disabilitas. FotoL UC Surabaya

Universitas Ciputra (UC) Surabaya menerapkan pendekatan kampus inklusif berbasis sistem dan data untuk meningkatkan layanan dan fasilitas mahasiswa disabilitas.

Yehuda Abiel Ketua Satgas Disabilitas UC mengatakan, langkah itu dimulai dengan pembuatan pedoman panduan kelas inklusif UC hasil kolaborasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) RI, sekaligus penguatan platform digital internal CEDX (Ciputra Education Digital Experience) yang diintegrasikan sebagai sistem pendukung pembelajaran inklusif.

“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness, tetapi masuk ke sistem. Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya, lengkap dengan panduan yang relevan, sehingga bisa lebih siap dalam merancang proses pembelajaran,” katanya, Jumat (8/5/2026).

Fitur tersebut, kata dia, memungkinkan dosen melihat tampilan khusus terkait mahasiswa disabilitas yang mengikuti mata kuliahnya. Informasi tersebut disertai guidebook yang membantu dosen memahami pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan mahasiswa.

Ia mengatakan, fitur tersebut ke depan akan diperluas melalui dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA) yang direncanakan mulai aktif pada September 2026 setelah Orientasi Week atau masa pengenalan mahasiswa baru.

“Melalui fitur ini, dosen PA dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal dan melakukan pendampingan yang lebih terarah, sekaligus berkoordinasi dengan admin support terkait kebutuhan pembelajaran,” ucapnya.

Pihaknya memastikan, kampus tetap menempatkan privasi mahasiswa sebagai prioritas utama. Untuk tahap awal, data belum dibuka secara luas kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah, mengingat masih diperlukan persetujuan tertulis dari mahasiswa.

“Skema ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem inklusif yang tetap menghormati aspek etika dan perlindungan data,” ujarnya.

Upaya itu dilakukan, lanjut dia, sebagai bentuk pengembangan kampus inklusif yang tidak cukup hanya melalui fasilitas atau kebijakan, tetapi membutuhkan integrasi antara edukasi, sistem, dan budaya.

“Kami ingin membangun ekosistem yang benar-benar siap, bukan hanya ramah. Inklusivitas harus hadir dalam sistem, agar dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” tuturnya.

Sementara itu, Santi Utami Dewi Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI mengatakan bahwa tantangan terbesar kampus dalam membangun inklusivitas bukan pada sumber daya, melainkan pada keberanian untuk memulai.

“Kesalahan terbesar kampus adalah tidak memulai untuk membangun kesadaran dan menciptakan lingkungan inklusif. Universitas Ciputra menunjukkan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ucapnya.

Seperti diketahui, inisiatif memperkuat layanan terhadap disabilitas itu diperkenalkan dalam workshop disability awareness bertajuk “Membangun Kesadaran, Menciptakan Lingkungan Inklusif” di UC Surabaya.(ris/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 8 Mei 2026
30o
Kurs