Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan wilayah Bondowoso, Jawa Timur (Jatim) mengalami bencana kekeringan.
Kekeringan terjadi akibat minimnya curah hujan yang menyebabkan penurunan debit sumber mata air secara drastis di beberapa kecamatan. Akibatnya, warga mengalami kesulitan akses air bersih sejak pertengahan Mei lalu.
Terkait hal ini, Abdul Muhari Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan pihaknya telah menyalurkan 10.000 liter air bersih kepada warga di tiga dusun di Desa Lumutan, Kecamatan Botolinggo, Bondowoso.
“Sebanyak 194 Kepala Keluarga (KK) menjadi penerima manfaat dari bantuan tersebut, dengan rincian: Dusun Seccang sebanyak 85 KK, Dusun Blengguan sebanyak 67 KK, dan Dusun Cemper Timur sebanyak 42 KK,” kata Abdul di Jakarta, Minggu (7/7/2026).
Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso telah mendistribusikan total 150.000 liter air bersih sejak 11 Mei 2026.
Penyaluran dilakukan secara bertahap ke 15 titik di wilayah Kabupaten Bondowoso, yakni Kecamatan Botolinggo, Klabang, Tegalampel, Taman Krocok, Maesan, Tlogosari, Wringin, dan Prajekan, dengan total 2.257 KK penerima manfaat.
BPBD setempat juga terus memantau kebutuhan warga terdampak, dengan pnambahan distribusi air bersih akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Merespons kejadian bencana hidrometeorologi kering yang semakin meningkat, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana seperti kekeringan dan karhutla.
“BNPB mengajak seluruh pihak untuk menghemat penggunaan air bersih, menjaga sumber mata air, serta menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar karena dapat memicu meluasnya karhutla,” pungkasnya.
Selama 10 tahun terakhir, pemanasan global disebut telah meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 1970-an, suhu Bumi telah meningkat 0,35 derajat celcius.
Dr. Emilya Nurjani pakar bidang klimatologi dari Fakultas Geografi UGM mengatakan, peningkatan suhu Bumi akan berdampak pada mencairnya es di Kutub Utara. Hal ini menyebabkan kenaikan volume air laut dan mendorong dataran rendah akan berkurang tingginya.
Selain itu, peningkatan suhu tersebut turut meningkatkan terjadinya bencana. Sebab, suhu yang tinggi menyebabkan penguapan tinggi, sehingga potensi terjadinya hujan juga akan semakin besar.
“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” jelas Emilya.
Emilya mengungkapkan diperlukan adanya upaya mitigasi agar peningkatan suhu tidak terus berlanjut. Pasalnya peningkatan suhu menyebabkan terjadinya kekeringan, bahkan peningkatan suhu yang lebih cepat.
Tidak hanya itu, peningkatan suhu yang membawa kemarau lebih cepat dan lebih kering. Hal ini juga berdampak terhadap sektor pangan.
“Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” jelasnya.(lea/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

