Senin, 8 Juni 2026

IHSG Anjlok 4,52 Persen ke Level 5.342, Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi. Saham turun. Foto: suarasurabaya.net

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terpukul pada perdagangan awal pekan ini. Tekanan jual yang kuat membuat IHSG anjlok tajam hingga ratusan poin, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi global maupun domestik yang sedang bergejolak.

Pada penutupan perdagangan Senin sore, IHSG tercatat melemah 252,63 poin atau 4,52 persen ke level 5.342,14. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga ikut tertekan cukup dalam dengan penurunan 30,67 poin atau 5,50 persen ke posisi 527,08.

Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan, tekanan di pasar saham tidak hanya dipicu faktor dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi sentimen global yang semakin tidak stabil.

“Tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif dari global dan domestik,” ujar Ratna dilansir dari Antara.

Dari sisi domestik, pasar disebut masih dihantui penurunan kepercayaan investor. Sementara dari luar negeri, eskalasi konflik antara Iran dan Israel kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar global.

Ketegangan geopolitik tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih dari 4 persen. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global serta risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi sikap lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang berpotensi mempertahankan kebijakan hawkish lebih lama di tengah tekanan inflasi energi.

Efek domino dari sentimen global ini turut menekan bursa saham Asia yang bergerak serempak melemah, mengikuti koreksi di Wall Street. Sektor teknologi dan ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama aksi jual di berbagai pasar.

“Potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih terbuka secara teknikal. IHSG berpotensi menguji level 5.100,” tambah Ratna.

Sepanjang perdagangan, IHSG konsisten berada di zona merah sejak sesi pertama hingga penutupan. Tekanan jual merata terjadi di seluruh sektor tanpa kecuali.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor tercatat melemah. Penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang merosot 6,47 persen, diikuti sektor industri sebesar 6,00 persen, serta transportasi dan logistik sebesar 5,43 persen.

Di sisi saham individual, beberapa emiten mencatat penguatan seperti GRIA, FORU, ASPR, TPIA, dan PSDN. Namun, jumlah saham yang melemah jauh lebih dominan, termasuk ENAK, PTSN, GPSO, TNCA, dan ANJT.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan 2.215.560 kali transaksi, melibatkan 32,52 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp21,74 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 78 saham yang menguat, sementara 661 saham melemah, dan 771 saham stagnan.

Tekanan juga terlihat di bursa regional Asia. Indeks Nikkei Jepang jatuh 3,74 persen, Shanghai turun 1,70 persen, Hang Seng melemah 1,22 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi 1,65 persen. Koreksi serentak ini mempertegas bahwa sentimen negatif global masih mendominasi pasar keuangan. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Senin, 8 Juni 2026
26o
Kurs