Selasa, 9 Juni 2026

KB Gratis Serentak 2026 Prioritaskan Keluarga Kurang Mampu, Mulai Implan sampai Vasektomi

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Alat kontrasepsi. Foto: Kelurahan Bandungrejosari

Wihaji, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, menyatakan layanan kontrasepsi Keluarga Berencana (KB) gratis dan serentak tahun 2026 akan diprioritaskan bagi keluarga kurang mampu, khususnya kelompok Desil 1–2.

“Prioritaskan kepada warga yang membutuhkan, khususnya Desil 1–4. Yang mandiri Insya Allah bisa, tetapi kita usahakan yang Desil 1–2. Semua gratis, ada vasektomi, tubektomi, pil, suntik, implan,” kata Wihaji dalam kick off Layanan KB Serentak yang dikutip Antara, Senin (8/6/2026).

Wihaji menjelaskan program ini digelar dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni 2026, sekaligus selaras dengan arahan Prabowo Subianto Presiden untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak tingkat keluarga. Kelompok rentan dinilai perlu diprioritaskan karena kehamilan yang tidak direncanakan dapat berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan pengasuhan anak.

Wihaji menegaskan program KB bukan upaya membatasi kelahiran secara paksa, melainkan memberi masyarakat hak untuk merencanakan keluarga sesuai kondisi masing-masing. “Ini bagian dari pesan Presiden yang berkenaan dengan penciptaan SDM yang lebih kuat,” ujarnya.

Ia menyebutkan terdapat 46 juta keluarga dengan pasangan usia subur di Indonesia. Menurutnya, potensi kelahiran perlu dikelola. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan memberi ruang bagi warga negara untuk mengatur hak reproduksinya secara mandiri.

“Perempuan tetap bisa bekerja, tetapi tidak mengurangi hak juga untuk kebutuhan reproduksi. Harus dijaga supaya kesehatan dan ekonomi tidak terganggu. Hari ini kita memastikan KB ini masih penting, khususnya KB pascapersalinan. Rata-rata saya keliling Indonesia, anak ketiga sampai kelima disebabkan karena kebobolan,” ucap Wihaji.

Ia menambahkan, tanpa pengendalian kelahiran melalui KB, angka kematian ibu, kematian bayi, dan stunting berpotensi meningkat, yang pada akhirnya juga menambah beban subsidi negara.

“Kalau kita hitung, program ini luar biasa memberikan kontribusi pada negara. Kita kan rata-rata 4,8 juta setiap tahun, berapa negara memberikan subsidi? (KB) Ini memang tidak kelihatan, membangun jalan rusak, rumah sakit, itu kelihatan, tetapi ini memang tidak kelihatan, tapi percayalah, ini kontribusi yang paling riil memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara,” ucap Wihaji.

Perlu diketahui, yang dimaksud dengan Desil 1 dan 2 adalah keluarga yang tingkat kesejahteraannya sangat miskin dan miskin. Desil 3 dan 4 adalah hampir miskin dan rentan miskin. Kemudian Desil 5 – 10 adalah menengah ke atas.(ant/iss/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Selasa, 9 Juni 2026
30o
Kurs