Jumat, 26 Juni 2026

Menkes Ingatkan Pemanfaatan AI Jangan Alihkan Fokus Penambahan Jumlah Dokter

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan menjawab pertanyaan wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Antara

Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan (Menkes) mengingatkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu menganalisis kondisi pasien, jangan sampai mengalihkan fokus utama pemerintah memperbanyak jumlah dokter.

Budi mengatakan, persoalan fundamental yang harus dijawab saat ini adalah kekurangan dokter, terutama di daerah-daerah terpencil.

“Saya rasa prioritas utamanya ke sana dulu. Bahwa kemudian nanti ditambah dengan telemedicine, AI, dan teknologi-teknologi lainnya, jangan sampai itu mengalihkan fokus kita atau perhatian kita untuk memperbanyak jumlah dokter dan mendistribusikan mereka ke daerah-daerah,” kata Budi usai rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (25/6/2026) yang dikutip Antara.

Menurut Budi, teknologi memang bisa menjadi pendukung dalam pelayanan kesehatan. Namun, dokter dan tenaga medis tetap dibutuhkan untuk melihat, memeriksa, dan menyentuh pasien secara langsung sebelum melakukan analisis.

Dalam rapat tersebut, Nihayatul Wafiroh Wakil Ketua Komisi IX DPR mengusulkan agar AI dimanfaatkan untuk membantu mengatasi persoalan kekurangan dokter di sejumlah daerah.

Ia menyarankan AI bisa digunakan untuk membantu menganalisis kondisi pasien, terutama di wilayah yang belum memiliki akses dokter memadai.

“Bisa enggak, ya, Pak, kira-kira di daerah-daerah tertentu, ini kita bisa dibantu AI, paling tidak untuk membantu pasien kita menganalisis penyakit dan sebagainya? Karena untuk menjembatani saja,” ucap Nihayatul.

Nihayatul mengaku prihatin dengan persebaran dokter di Indonesia yang belum mencukupi kebutuhan. Ia menilai persoalan ini tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat, karena pendidikan dokter membutuhkan proses yang panjang.

“Kalau menunggu, kan, enggak mungkin juga masyarakat menunggu sampai lulus. Nah, bisa enggak, dengan teknologi yang ada itu kita bisa mengganti kehadiran fisik dokter dengan yang lain? Walaupun memang pasti tidak maksimal, tapi untuk mungkin penyakit tertentu,” tuturnya.

Nihayatul juga menyinggung pemanfaatan teknologi operasi jarak jauh yang sebelumnya pernah dilakukan. Menurutnya, jika operasi jarak jauh bisa dilakukan, maka pemeriksaan jarak jauh di wilayah yang kekurangan dokter juga berpotensi menjadi salah satu solusi.

“Karena Pak Menteri, kapan itu juga sudah melakukan operasi jarak jauh, ya, Pak? Operasi jarak jauh itu juga luar biasa. Kalau itu bisa dilakukan dengan pemeriksaan jarak jauh juga di wilayah tertentu yang tidak ada dokter, itu juga bisa salah satu solusinya,” katanya. (ant/bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Jumat, 26 Juni 2026
28o
Kurs