Sabtu, 8 Agustus 2026

Psikolog Ingatkan Media Sosial Bukan Tempat Melampiaskan Amarah

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Foto Ilustrasi

Ratih Ibrahim psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia mengingatkan media sosial bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan amarah. Sebab, tindakan impulsif di ruang digital justru dapat memperkuat emosi negatif dan menimbulkan persoalan baru.

Pernyataan itu disampaikan Ratih menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap, lewat media sosial Threads 22 Juli lalu.

Namun, yang terjadi, pasien JKN tersebut justru panen komentar nirempati dari sejumlah akun, yang mirisnya setelah teridentifikasi merupakan tenaga kesehatan (Nakes) itu sendiri. Tak lama kemudian, Yusrizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026 akibat penyakit yang dideritanya.

“Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya,” kata Ratih, Sabtu (8/8/2026) dikutip Antara.

Menurut Ratih, mengeluarkan unek-unek atau melakukan katarsis memang bisa memberikan rasa lega. Namun, efek tersebut sering kali hanya bersifat sementara.

Ia mengingatkan, unggahan yang dibuat saat emosi sedang memuncak berpotensi memunculkan persoalan baru, mulai dari konflik, penyesalan, hingga kerusakan reputasi profesional.

“Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti pasien,” ujarnya.

Ratih menjelaskan, media sosial memiliki karakteristik yang membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara bebas dan emosional dibandingkan ketika berinteraksi langsung.

Dalam psikologi, kecenderungan seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri ketika berada di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh jarak, anonimitas, atau minimnya konsekuensi yang langsung terlihat saat seseorang berinteraksi di ruang digital.

Karena itu, Ratih menyarankan masyarakat memproses emosi dengan cara yang lebih konstruktif, seperti berbicara dengan orang yang dipercaya atau melakukan refleksi. “Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, carilah bantuan profesional,” katanya.

Ratih menilai kemampuan mengelola emosi penting agar seseorang tidak menjadikan media sosial sebagai ruang pelampiasan amarah yang dapat berdampak kepada orang lain.

Terlebih, unggahan di media sosial dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan berpotensi berdampak luas, baik bagi pihak yang menjadi sasaran maupun orang yang mengunggahnya. (ant/bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Sabtu, 8 Agustus 2026
32o
Kurs